Penulis: Amatus Rahakbauw K.
Jam menunjukkan pukul 10.30 pagi. Di balik meja kerjanya yang penuh berkas, Dina—seorang pegawai negeri sipil (PNS) muda—tampak sibuk. Bukan dengan dokumen atau laporan, tetapi dengan layar ponselnya. Jempolnya lincah memberi “like” dan menulis komentar di postingan teman-temannya di media sosial.
Di grup WhatsApp kantor, rekan-rekannya juga terlihat aktif bercanda dan berbagi meme. Suasana tampak santai, tawa kecil sesekali terdengar, mencairkan rutinitas kerja pagi itu. Namun, semuanya berubah saat Kepala Seksi tiba-tiba berdiri di tengah ruangan.
“Saya minta tolong, mulai sekarang, gunakan jam kerja untuk benar-benar bekerja. Media sosial bisa menunggu,” ucapnya dengan nada tegas, tapi tetap tenang.
Suasana seketika menjadi hening. Dina menunduk, malu. Ia sadar bahwa pekerjaannya masih menumpuk, tapi godaan membuka media sosial memang sulit ditolak.
Dalam hati, Dina bertanya,
“Pantaskah aku menggunakan waktu kerja—yang dibiayai oleh rakyat—hanya untuk hal-hal yang tidak produktif?”
Hari itu menjadi titik balik bagi Dina. Ia mulai disiplin membatasi penggunaan ponsel saat jam kerja. Ia mengatur alarm pengingat untuk istirahat, dan hanya membuka media sosial saat jam makan siang. Produktivitasnya meningkat pesat. Atasannya pun mulai memberinya tanggung jawab lebih besar.
Cerita ini bukan hanya tentang Dina, tetapi tentang setiap pilihan kecil yang kita ambil. Karena ketika status dan story bisa menunggu, pelayanan kepada masyarakat tidak bisa.



















