Kami Ada, Kami Bekerja, dan Kami Layak Didengar

- Penulis

Selasa, 23 Desember 2025 - 22:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Kami bukan siapa-siapa. Kami bukan orang besar, bukan pemilik jabatan, bukan pula mereka yang sering tampil di layar kaca. Kami hanyalah orang-orang biasa yang bangun sebelum matahari terbit dan pulang ketika hari hampir habis.

Tangan kami kasar oleh kerja, punggung kami lelah oleh beban, tetapi hidup tetap harus dijalani.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama ini kami lebih sering diminta diam. Diminta sabar, diminta mengerti keadaan, diminta menerima apa adanya.

Sementara keputusan tentang hidup kami dibuat di ruang-ruang yang tak pernah kami masuki. Suara kami dianggap terlalu kecil untuk didengar, terlalu lemah untuk diperhitungkan.

Namun diam yang terlalu lama berubah menjadi beban. Bukan karena kami ingin ribut, tetapi karena keadilan tidak datang dengan sendirinya.

Baca Juga  Para Jendral Bilang, FRN Berikan Reward Positif Ke Polisi, Bukan Berita Hoax

Ia harus diingatkan, dipanggil, bahkan ditegakkan. Maka suara sederhana ini berdiri, bukan dengan teriakan kosong, melainkan dengan keberanian yang lahir dari kejujuran.

Kami bekerja. Kami menanam, melaut, membangun, membersihkan, dan menjaga. Negeri ini berdiri di atas keringat kami. Jalan yang dilalui, gedung yang dipakai, makanan yang dimakan—semuanya lahir dari kerja tangan orang-orang kecil.

Karena itu, wajar bila kami meminta dihargai sebagai manusia, bukan sekadar angka atau alat.

Suara kami mungkin tidak halus, kadang keras dan terasa kasar. Tapi itu karena hidup kami memang tidak pernah lembut. Kata-kata ini bukan makian, melainkan cermin kenyataan. Bukan ajakan untuk membenci, melainkan panggilan untuk peduli.
Kami tidak menuntut kemewahan. Kami hanya ingin keadilan yang sama, aturan yang tidak pilih kasih, dan janji yang ditepati. Kami ingin didengar sebelum diputuskan, diajak bicara sebelum dikorbankan.

Baca Juga  Ketum PW FRN Agus Flores: Nama Bhayangkara Jangan Dijadikan Simbol Kosong, Ini Warisan Sakral Majapahit

Inilah saatnya suara sederhana berdiri tegak. Bukan untuk menjatuhkan siapa pun, tetapi untuk menegakkan martabat. Sebab negeri yang besar bukan negeri yang membungkam rakyat kecil, melainkan negeri yang mau mendengar mereka. Kami ada. Kami bekerja.
Dan kami layak didengar.

Penulis : Amatus Rahakbauw

Berita Terkait

Raden Mas Agus Rugiarto SH, Sosok Aktivis, Advokat, dan Organisasi yang Memilih Tetap Mengabdi di Tengah Masyarakat
Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan
Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 
Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran
Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 
Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara
Salut, Pansus Plasma HGU Perkebunan di Batu Bara Terbentuk 
Raden AF, Mengupas Lagi Jendral AA, Terkenal Keberaniannya Mengeksekusi Anakbuahnya Merusak Bangsa

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 17:48 WIB

Raden Mas Agus Rugiarto SH, Sosok Aktivis, Advokat, dan Organisasi yang Memilih Tetap Mengabdi di Tengah Masyarakat

Senin, 22 Juni 2026 - 13:07 WIB

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:08 WIB

Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:57 WIB

Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran

Senin, 15 Juni 2026 - 10:05 WIB

Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page