Kami bukan siapa-siapa. Kami bukan orang besar, bukan pemilik jabatan, bukan pula mereka yang sering tampil di layar kaca. Kami hanyalah orang-orang biasa yang bangun sebelum matahari terbit dan pulang ketika hari hampir habis.
Tangan kami kasar oleh kerja, punggung kami lelah oleh beban, tetapi hidup tetap harus dijalani.
Selama ini kami lebih sering diminta diam. Diminta sabar, diminta mengerti keadaan, diminta menerima apa adanya.
Sementara keputusan tentang hidup kami dibuat di ruang-ruang yang tak pernah kami masuki. Suara kami dianggap terlalu kecil untuk didengar, terlalu lemah untuk diperhitungkan.
Namun diam yang terlalu lama berubah menjadi beban. Bukan karena kami ingin ribut, tetapi karena keadilan tidak datang dengan sendirinya.
Ia harus diingatkan, dipanggil, bahkan ditegakkan. Maka suara sederhana ini berdiri, bukan dengan teriakan kosong, melainkan dengan keberanian yang lahir dari kejujuran.
Kami bekerja. Kami menanam, melaut, membangun, membersihkan, dan menjaga. Negeri ini berdiri di atas keringat kami. Jalan yang dilalui, gedung yang dipakai, makanan yang dimakan—semuanya lahir dari kerja tangan orang-orang kecil.
Karena itu, wajar bila kami meminta dihargai sebagai manusia, bukan sekadar angka atau alat.
Suara kami mungkin tidak halus, kadang keras dan terasa kasar. Tapi itu karena hidup kami memang tidak pernah lembut. Kata-kata ini bukan makian, melainkan cermin kenyataan. Bukan ajakan untuk membenci, melainkan panggilan untuk peduli.
Kami tidak menuntut kemewahan. Kami hanya ingin keadilan yang sama, aturan yang tidak pilih kasih, dan janji yang ditepati. Kami ingin didengar sebelum diputuskan, diajak bicara sebelum dikorbankan.
Inilah saatnya suara sederhana berdiri tegak. Bukan untuk menjatuhkan siapa pun, tetapi untuk menegakkan martabat. Sebab negeri yang besar bukan negeri yang membungkam rakyat kecil, melainkan negeri yang mau mendengar mereka. Kami ada. Kami bekerja.
Dan kami layak didengar.
Penulis : Amatus Rahakbauw






















