Di antara hujan yang jatuh pelan di sore Tarakan, ada seseorang yang datang—bukan karena diundang, tapi karena hatinya memanggil.
Ia datang pertama kali dengan senyum, membawa harapan kecil yang dibungkus kesungguhan.
Datang kedua kali, dengan tangan kosong, tapi hati yang masih sama: penuh cinta, penuh sabar.
Namun, dunia kadang tidak memberi ruang bagi orang-orang yang tulus.
Ketulusan sering disalahartikan sebagai keinginan untuk menetap, padahal ia hanya ingin diterima—sekadar diingat.
Dan ketika pintu-pintu mulai tertutup, orang yang tulus itu tak langsung pergi. Ia mencoba lagi.
Sekali, dua kali, berkali-kali…
Bukan karena bodoh, tapi karena ia tahu: kasih yang sejati tidak menyerah hanya karena ditolak.
Sampai suatu hari, langkahnya berhenti di depan rumah yang sama, tapi kini tanpa niat mengetuk.
Ia berdiri lama, menatap dinding-dinding kenangan yang dulu hangat, kini dingin.
Ia sadar—kadang ketulusan juga perlu tahu kapan harus pergi, agar tidak berubah menjadi luka.
Lalu ia berjalan pelan, meninggalkan jejak yang hanya bisa dilihat oleh hati.
Tak ada perpisahan, tak ada marah.
Hanya diam yang penuh doa:
“Semoga engkau bahagia, meski bukan denganku.”
Dan begitulah orang yang tulus—ia datang dua kali, tiga kali, berkali-kali…
Sampai dunia tahu, bahwa cinta yang benar tak pernah datang untuk dimiliki,
melainkan untuk memberi makna sebelum akhirnya pergi dengan tenang.
Penulis : Amatus Rahakbauw



















