Buah Jambu – Buah Jasmani vs Buah Rohani

- Penulis

Kamis, 31 Juli 2025 - 15:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Di halaman belakang rumah peninggalan orang tuaku, berdiri sebuah pohon jambu. Tingginya menjulang, rantingnya menjuntai, dan setiap musim buah, jambu-jambu merah ranum bergelantungan seolah-olah memamerkan kelezatan dunia.

Aku bangga. Semua orang datang ke rumah hanya untuk mencicipi buah jambuku. Manis. Segar. Menggoda.

Tapi hari itu, seorang hamba Tuhan datang berkunjung. Ia memetik satu jambu, menggigitnya, lalu berkata tajam, “Kamu tahu? Buah ini hanya untuk perutmu. Tubuhmu kenyang, tapi jiwamu kosong. Pohon ini subur, tapi hidupmu kering.”

Aku tersentak.

“Sebab mereka menabur bagi dagingnya sendiri, dan dari daging akan menuai kebinasaan; tetapi barangsiapa menabur bagi Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”
(Galatia 6:8, TB)

Aku berpikir, memangnya salah menikmati buah jambu? Tapi kemudian dia membuka Alkitab dan membacakan ayat itu keras-keras. Suaranya seperti palu menghantam batu hatiku.

“Orang yang hidup menurut daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”
(Roma 8:8, TB)

Baca Juga  Keindahan Suasana Malam di Witanaharja Pamulang Kota Tangerang Selatan

Ia melanjutkan, “Kamu sibuk pupuk tanah, rawat ranting, siram akar jambu ini setiap pagi. Tapi hatimu kering. Kamu tidak pernah pupuk imanmu. Kamu tidak pernah sirami jiwamu dengan Firman. Kamu cinta jambu, tapi tidak cinta Tuhan.”

Aku terdiam. Terpukul.

Buah Daging, Buah Roh

Pohon jambu itu menjadi gambaran hidupku: subur secara jasmani, mati secara rohani. Aku pergi ke gereja, tapi tidak pernah benar-benar lapar akan kebenaran. Aku sibuk membangun rumah, memperbesar ladang, mengembangkan usaha. Tapi aku tidak pernah bertanya, “Apakah aku menghasilkan buah Roh?”

“Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora…”
(Galatia 5:19-21, TB)

Itu semua ternyata juga ‘buah’. Tapi buah yang busuk. Busuk di mata Allah.

Hamba Tuhan itu menatapku dan berkata, “Kamu bisa punya pohon jambu yang terbaik di kampung ini, tapi kalau hidupmu tidak menghasilkan buah Roh, kamu layak ditebang!”

Baca Juga  Bertahan Sampai Habis: Kisah Sunyi yang Tidak Pernah Diceritakan

“Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.”
(Matius 3:10, TB)

Aku merasa dihantam petir. Seolah-olah seluruh pohon jambu itu tumbang menimpa kesadaranku. Selama ini aku pikir aku sudah hidup baik. Aku tidak jahat. Tapi aku juga tidak rohani. Aku hidup netral. Tapi ternyata tidak ada yang netral di hadapan Allah.

Pohon yang Ditanam di Firman

“Kalau kamu mau benar-benar hidup,” kata hamba Tuhan itu sambil menunjuk tanah basah di dekat pohon jambu, “tanamlah hidupmu di dalam Firman. Sirami jiwamu dengan doa. Buang dosa seperti kamu memangkas ranting busuk. Maka kamu akan berbuah. Bukan buah jambu, tapi buah Roh.”

“Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya.”
(Mazmur 1:3, TB)

Pertobatan

Hari itu aku menangis. Aku berlutut di bawah pohon jambu yang biasa aku banggakan, dan aku berdoa, “Tuhan, tebang aku kalau harus, tapi jangan biarkan aku tetap hidup dalam kemunafikan.”

Baca Juga  Pontius – Luka Jalan Hidup, Cahaya di Ujung Perjuangan

Aku mulai membaca Alkitab setiap hari. Aku belajar berkata jujur, mengampuni, melayani, memberi, dan menolak dosa meskipun menggoda. Lambat laun, orang-orang datang ke rumah bukan lagi karena buah jambunya, tapi karena hidupku berubah. Bukan karena segarnya jambu, tapi karena manisnya kasih Tuhan yang terpancar dari hidupku.

“Akulah pokok anggur yang benar dan kamu adalah ranting-rantingnya… Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak…”
(Yohanes 15:5, TB)

Penutup: Hidupmu Buah Apa?

Jangan bangga karena tubuhmu sehat, hartamu banyak, rumahmu indah, kebunmu subur. Itu semua fana. Pertanyaannya sederhana tapi mematikan:

“Apakah hidupmu sedang menghasilkan buah Roh atau buah daging?”

Kalau jawabannya belum, jangan tunggu ditebang. Hari ini, bertobatlah. Tanam dirimu di dalam Kristus, dan berbuahlah bagi kemuliaan Tuhan.

Penulis : Amatus.Rahakbauw.K

Berita Terkait

Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku
Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif
Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya
Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa
Agus Flores Nobar FIFA 2026 Bersama Kapolda Jabar dan Jajaran Dukung Program Kapolri
Jurnalis dan Nurani Kebenaran: Saat Pena Menjadi Cahaya Peradaban
Senja yang Pergi, Bulan yang Menemani
Belajar dari Yunnan, Tobat Ekologi Ditopang Gerakan Koperasi

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:35 WIB

Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:13 WIB

Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:51 WIB

Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa

Senin, 20 Juli 2026 - 13:39 WIB

Agus Flores Nobar FIFA 2026 Bersama Kapolda Jabar dan Jajaran Dukung Program Kapolri

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page