Selamat malam, cinta.
Selamat tidur, cinta.
Malam ini aku hanya ingin berbicara lewat kata, karena mungkin itu satu-satunya jalan yang tersisa untukku menyapa hatimu yang kini sudah jauh.
Aku ingin bilang sesuatu, yang selama ini kutahan di dada:
Beta mundur.
Bukan karena beta tidak cinta, tapi karena beta sadar — cinta yang dulu kita jaga, kini sudah bukan untuk beta lagi.
Beta tahu, sekarang ale sudah punya cinta yang baru.
Beta lihat, sejak nyong yang kemarin datang, ale mulai jalan deng dia.
Waktu itu, beta diam saja. Beta cuma bisa lihat dari jauh, sambil belajar menerima bahwa mungkin… tempat beta di hati ale sudah tak ada lagi.
Mungkin benar, cinta tidak selalu harus memiliki. Kadang, cinta juga berarti tahu kapan harus mundur — dengan tenang, dengan hormat, tanpa dendam.
Beta tidak mau jadi orang yang ganggu kebahagiaan ale. Beta rela, sungguh rela, kalau memang dia yang bisa buat ale bahagia.
Beta sadar, ale juga sudah menjauh.
Ale bahkan sudah blokir beta.
Awalnya sakit sekali… seolah dunia berhenti sejenak waktu itu. Tapi setelah beta pikir baik-baik, mungkin itulah tanda dari Tuhan, bahwa sudah waktunya beta berhenti menunggu sesuatu yang tak lagi ditujukan untuk beta.
Beta bukan siapa-siapa, cinta.
Beta bukan pegawai, bukan orang yang bisa kasih apa-apa.
Beta cuma seorang pengangguran, dengan mimpi sederhana dan cinta yang tulus. Tapi ternyata ketulusan saja tidak cukup buat pertahankan cinta.
Jadi malam ini, beta ingin pamit — dengan hati yang masih sayang, tapi juga sadar diri.
Beta mundur dengan teratur, supaya ale bisa jalan terus dengan dia tanpa beban.
Karena pada akhirnya, yang penting bukan siapa yang paling mencintai, tapi siapa yang paling membuat ale bahagia.
Selamat malam, cinta.
Selamat tidur dengan tenang.
Kalau suatu hari ale kenang beta, jangan kenang luka atau air mata — kenang saja bahwa pernah ada seseorang yang mencintai ale dengan sederhana, tapi dengan segenap hati.
Penulis : Amatus Rahakbauw. K






















