Ayah & Ibu Cahaya Makrifat Allah di Dunia

- Penulis

Rabu, 2 April 2025 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Udin Batubara

Dalam pandangan makrifat, ayah dan ibu bukan sekadar insan yang melahir dan membesarkan kita. Mereka adalah bayangan sifat-sifat Allah yang dizahirkan dalam bentuk manusia.

Jika kita melihat dengan mata hati, kita akan sedar bahwa kasih sayang mereka bukan milik mereka sendiri, tetapi pancaran kasih Allah yang disalurkan kepada kita melalui mereka.

Ayah

Ayah adalah lambang Jalal Allah-keperkasaan dan perlindungan-Nya. Dia bukan sekadar seorang lelaki yang bekerja mencari nafkah, tetapi tangan Allah yang bergerak di dunia ini untuk memastikan kita cukup makan, cukup pakaian, cukup keperluan.

Dia berjalan di bawah terik mentari, menahan letih, menahan lapar, menahan luka-semuanya kerana kasih sayang yang hakikatnya bukan datang dari dirinya sendiri, tetapi dari Allah yang menggerakkan hatinya untuk menyayangi kita. Jika kita hanya melihat ayah sebagai manusia, kita akan melihatnya sebagai seorang yang garang, pendiam, atau sibuk. Tetapi jika kita melihat dengan mata makrifat, kita akan melihat Allah sedang menjaga kita melalui dirinya.

Baca Juga  Halmahera Selatan Terancam Pandemi Minamata

Ibu

Ibu pula adalah lambang Jamal Allah -kelembutan dan kasih sayang-Nya.

Sentuhannya yang menenangkan, suaranya yang mendamaikan, pelukannya yang menyembuhkan semua itu bukan darinya sendiri, tetapi adalah rahmat Allah yang mengalir melalui dirinya.

Sejak kita dalam rahimnya, ibu telah menjadi pintu rahmat yang Allah bukakan untuk kita.

Dia tidak pernah berkira dalam memberi, tidak pernah lelah dalam melayani. Tetapi jika kita melihat dengan mata biasa, kita hanya akan melihat ibu sebagai seorang wanita tua yang banyak berleter, banyak bertanya, atau terlalu risau. Jika kita melihat dengan mata makrifat, kita akan melihat Allah sedang mencintai kita melalui dirinya.

Mereka Tidak Memiliki Apa-Apa

Baca Juga  Manusia Dihargai Karena Harta?

Ayah dan ibu tidak memiliki kasih sayang itu sendiri. Mereka tidak memiliki rezeki yang mereka beri kepada kita. Mereka tidak memiliki kekuatan yang mereka gunakan untuk membesarkan kita. Semua itu hanyalah pinjaman dari Allah. Mereka hanyalah cermin yang memantulkan rahmat Allah kepada kita.

Maka, apakah kita mencintai cermin atau cahaya yang terpantul padanya? Jika kita hanya mencintai cermin, kita akan kecewa bila ia retak, kita akan menangis bila ia hilang. Tetapi jika kita mencintai cahaya yang terpantul padanya, kita akan sedar bahwa ia tidak pernah hilang ia hanya kembali kepada Pemiliknya.

Dan bila mereka pergi

Jangan bersedih keterlaluan, kerana mereka tidak benar-benar pergi. Mereka hanya kembali kepada Allah, seperti mana segala sesuatu kembali kepada-Nya. Mereka tidak pernah memiliki kasih sayang itu, kerana ia adalah milik Allah. Dan jika kasih sayang itu milik Allah, ia tidak akan pernah hilang.

Baca Juga  Pimpinan Gereja Katolik Dekenat Moni Puncak Jaya Mengapresiasi Pj Gubernur Papua Tengah

Maka jangan rindu kepada jasad mereka, tetapi rindu kepada Allah yang kasih sayang-Nya telah sampai kepada kita melalui mereka. Jangan sedih kehilangan mereka, tetapi carilah kasih Allah yang hakikatnya tidak pernah meninggalkan kita walau sesaat.

Makrifat mengajar kita untuk tidak melekat kepada selain Allah

Ayah dan ibu hanyalah perantara. Hakikat cinta, hakikat kasih, hakikat perlindungan, semuanya adalah milik Allah. Bila kita melihat mereka dengan mata makrifat, kita akan sedar bahwa mereka adalah jalan, tetapi bukan destinasi. Destinasi kita yang sebenar hanyalah Allah.

Penulis : Udin Batubara

Editor : M Hamdani Batubara

Berita Terkait

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan
Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku
Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif
Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya
Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa
Agus Flores Nobar FIFA 2026 Bersama Kapolda Jabar dan Jajaran Dukung Program Kapolri
Jurnalis dan Nurani Kebenaran: Saat Pena Menjadi Cahaya Peradaban
Senja yang Pergi, Bulan yang Menemani

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:35 WIB

Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:13 WIB

Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:51 WIB

Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page