Hujan Berkat di Thumburuni

- Penulis

Sabtu, 19 Juli 2025 - 18:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

TEMPO TIMUR — Pagi itu, langit Fakfak diselimuti awan kelabu. Rintik hujan turun perlahan, membasahi atap-atap rumah dan pepohonan yang berjajar rapi di sepanjang Jalan Kihajar Dewantara. Udara dingin yang menyusup lewat celah jendela disambut hangat oleh semangat yang tak pernah padam dari sebuah ruang kelas kecil di PAUD Seatap Inpres Thumburuni.

Jam menunjukkan pukul 10.04 WIT ketika Ibu Santi Budiman, S.Pd., Kepala Sekolah PAUD itu, berdiri di depan pintu kelas dengan wajah teduh dan senyum yang sehangat mentari pagi. Di tengah hujan yang seolah membawa berkat dari langit, ia menerima kehadiran seorang jurnalis lokal yang datang untuk mendengar kisah perjuangannya.

Baca Juga  Perubahan Pesta Tapai dan Silaturrahmi Islam

Ruang kelas itu sederhana, namun penuh warna. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar hasil tangan mungil murid-muridnya—matahari, pelangi, burung cenderawasih, dan rumah-rumah kecil di antara bukit. Kursi-kursi kecil tersusun rapi, beberapa di antaranya masih kosong pagi itu.

“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran di PAUD,” ujar Ibu Santi dengan suara tenang, seiring hujan yang masih menetes di luar jendela. “Agar anak-anak bisa merasakan pendidikan yang menyenangkan dan bermakna sejak langkah pertama mereka.”

Namun lebih dari sekadar kurikulum, Ibu Santi percaya bahwa pendidikan harus ditanamkan dengan kasih. Ia menanam nilai-nilai hidup: kebersamaan, kepedulian, dan kepercayaan. Baginya, sekolah adalah rumah kedua yang menyatukan guru, orang tua, dan masyarakat demi satu tujuan: membentuk masa depan anak-anak Papua dengan fondasi yang kokoh.

Baca Juga  Warga Berperan Aktif dalam Memberantas Narkoba dan Judi

Masih di hari yang sama, pembukaan tahun ajaran baru PAUD dan TK digelar di SD Inpres 6/75 Fakfak. Dari 32 siswa yang terdaftar, hanya 11 anak yang hadir. Sebuah angka yang tak menyurutkan harapan.

“Saya percaya, seiring waktu, kesadaran orang tua akan tumbuh,” kata Ibu Santi sambil menatap kursi-kursi kosong yang seolah menunggu suara tawa anak-anak. “Mereka akan sadar bahwa masa depan anak-anak kita dimulai dari sini, dari ruang-ruang kecil seperti ini.”

Hujan masih turun, membasahi halaman sekolah. Tapi bagi Ibu Santi, itu bukan sekadar cuaca. Itu adalah hujan berkat—yang menyirami benih-benih harapan yang ia tanam setiap hari.

Di balik papan tulis kapur dan seragam yang telah lusuh oleh waktu, ia menyimpan api semangat yang tak pernah padam. Di Thumburuni, di antara hujan dan hening, masa depan itu sedang bertumbuh. Perlahan, tapi pasti.

Baca Juga  Ketika Dua Pelayanan Bertemu, Mengapa Harus Bertikai?

 

Penulis : Amatus.Rahakbauw.K

Berita Terkait

Pemekaran Aslab Seriuskah Agar Tak Salah Arah
Dimana Logisnya Provinsi Sumatera Pantai Timur Itu?
Gagasan Pemekaran Provinsi SUMPIT itu Gak Bisa Ujug – Ujug
Ketika Respons Lambat Dipertontonkan, Kejati Justru Menjawab dengan Tindakan
Jangan Takut Bersinar Meskipun Kesuksesan Akan Selalu Diuji, Teruslah Jangan Pernah Berhenti Melangkah
“Jurnalisme dan Nurani: Menulis dengan Hati, Bukan Ego”
Dari Gosip ke Gagasan: Tiga Tingkatan Berpikir yang Menentukan Kualitas Bangsa
“Membunuh Korupsi di Dalam Diri”

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 09:23 WIB

Pemekaran Aslab Seriuskah Agar Tak Salah Arah

Minggu, 19 April 2026 - 09:13 WIB

Gagasan Pemekaran Provinsi SUMPIT itu Gak Bisa Ujug – Ujug

Jumat, 17 April 2026 - 23:54 WIB

Ketika Respons Lambat Dipertontonkan, Kejati Justru Menjawab dengan Tindakan

Jumat, 17 April 2026 - 20:42 WIB

Jangan Takut Bersinar Meskipun Kesuksesan Akan Selalu Diuji, Teruslah Jangan Pernah Berhenti Melangkah

Rabu, 15 April 2026 - 21:22 WIB

“Jurnalisme dan Nurani: Menulis dengan Hati, Bukan Ego”

Berita Terbaru

Opini

Pemekaran Aslab Seriuskah Agar Tak Salah Arah

Minggu, 19 Apr 2026 - 09:23 WIB

You cannot copy content of this page