TEMPO TIMUR — Pagi itu, langit Fakfak diselimuti awan kelabu. Rintik hujan turun perlahan, membasahi atap-atap rumah dan pepohonan yang berjajar rapi di sepanjang Jalan Kihajar Dewantara. Udara dingin yang menyusup lewat celah jendela disambut hangat oleh semangat yang tak pernah padam dari sebuah ruang kelas kecil di PAUD Seatap Inpres Thumburuni.
Jam menunjukkan pukul 10.04 WIT ketika Ibu Santi Budiman, S.Pd., Kepala Sekolah PAUD itu, berdiri di depan pintu kelas dengan wajah teduh dan senyum yang sehangat mentari pagi. Di tengah hujan yang seolah membawa berkat dari langit, ia menerima kehadiran seorang jurnalis lokal yang datang untuk mendengar kisah perjuangannya.
Ruang kelas itu sederhana, namun penuh warna. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar hasil tangan mungil murid-muridnya—matahari, pelangi, burung cenderawasih, dan rumah-rumah kecil di antara bukit. Kursi-kursi kecil tersusun rapi, beberapa di antaranya masih kosong pagi itu.
“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran di PAUD,” ujar Ibu Santi dengan suara tenang, seiring hujan yang masih menetes di luar jendela. “Agar anak-anak bisa merasakan pendidikan yang menyenangkan dan bermakna sejak langkah pertama mereka.”
Namun lebih dari sekadar kurikulum, Ibu Santi percaya bahwa pendidikan harus ditanamkan dengan kasih. Ia menanam nilai-nilai hidup: kebersamaan, kepedulian, dan kepercayaan. Baginya, sekolah adalah rumah kedua yang menyatukan guru, orang tua, dan masyarakat demi satu tujuan: membentuk masa depan anak-anak Papua dengan fondasi yang kokoh.
Masih di hari yang sama, pembukaan tahun ajaran baru PAUD dan TK digelar di SD Inpres 6/75 Fakfak. Dari 32 siswa yang terdaftar, hanya 11 anak yang hadir. Sebuah angka yang tak menyurutkan harapan.
“Saya percaya, seiring waktu, kesadaran orang tua akan tumbuh,” kata Ibu Santi sambil menatap kursi-kursi kosong yang seolah menunggu suara tawa anak-anak. “Mereka akan sadar bahwa masa depan anak-anak kita dimulai dari sini, dari ruang-ruang kecil seperti ini.”
Hujan masih turun, membasahi halaman sekolah. Tapi bagi Ibu Santi, itu bukan sekadar cuaca. Itu adalah hujan berkat—yang menyirami benih-benih harapan yang ia tanam setiap hari.
Di balik papan tulis kapur dan seragam yang telah lusuh oleh waktu, ia menyimpan api semangat yang tak pernah padam. Di Thumburuni, di antara hujan dan hening, masa depan itu sedang bertumbuh. Perlahan, tapi pasti.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K



















