Banyak orang bertanya,
“Kapan kau menikah? Siapa yang kau cintai?”
Aku hanya tersenyum.
Karena sesungguhnya, aku sudah lama punya “istri pertama” yang selalu menemaniku.
Namanya: kamera, buku, dan bulpen.
Merekalah saksi bisu dari hidup yang tak pernah tenang.
Mereka menemaniku saat matahari menyengat dan hujan mengguyur.
Mereka jadi pelindung saat aku harus berlari dari amarah massa, saat dicaci karena berita yang kubuat,
saat diancam karena fakta yang kuungkap.
Kadang kami dibina, ditegur, bahkan dibungkam.
Tapi kami tetap kembali turun ke lapangan.
Karena bagi kami, jurnalisme bukan sekadar profesi—
ini adalah pilihan hidup.
Kamera menangkap kebenaran yang tak bisa dibantah.
Buku mencatat kisah yang tak boleh dilupakan.
Dan bulpen…
Dialah senjata kecilku, yang mampu melawan kebohongan dengan sebaris kalimat tajam dan jujur.
Hidup sebagai jurnalis bukan untuk jadi pahlawan.
Tapi untuk memastikan suara yang lemah tetap terdengar, dan cerita yang disembunyikan tetap terungkap.
Aku tahu, cinta manusia bisa meninggalkan.
Tapi kamera, buku, dan bulpen—mereka selalu setia.
Tak pernah menuntut apa pun,
selain keberanian untuk menulis apa yang benar.
Jadi jika kau tanya siapa yang pertama dan terutama dalam hidupku,
jawabannya jelas:
Mereka yang selalu bersamaku, saat dunia mencoba membungkam.
Kalau kamu ingin cerpen ini disambung ke bagian “pengorbanan pribadi” atau “konflik antara cinta dan profesi”, aku bisa bantu buatkan lanjutannya.





















