Papua Barat Daya — Pendeta Alexander Maniani, dari Biro Penginjilan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jemaat Alfa Omega, meminta agar Proyek Strategis Nasional (PSN) di sektor perkebunan kelapa sawit di Tanah Papua menjadi bahan pertimbangan bersama seluruh unsur pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Pdt. Alexander Maniani saat dikonfirmasi Jurnalis TempoTimur.com, Kamis (5/2/2026), pukul 13.12 WIT.
Menurutnya, pengembangan perkebunan kelapa sawit di Tanah Papua memiliki potensi dampak negatif yang perlu dicermati secara serius, terutama terhadap lingkungan hidup, hak masyarakat adat, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat lokal.
Ia menjelaskan bahwa salah satu dampak yang mengkhawatirkan adalah deforestasi dan kerusakan lingkungan, di mana pembukaan lahan sawit menyebabkan hilangnya hutan tropis Papua yang kaya keanekaragaman hayati serta berfungsi sebagai penyerap karbon dan pengatur sistem hidrologis.
Selain itu, ekspansi perkebunan sawit juga berpotensi memicu konflik agraria dan pelanggaran hak masyarakat adat, akibat pengabaian hak ulayat dan minimnya pelibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.
Dampak lainnya adalah kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati, termasuk terancamnya habitat satwa endemik Papua seperti burung cendrawasih dan kasuari. Hilangnya tutupan hutan juga berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon yang dapat memperburuk perubahan iklim.
Pdt. Alexander Maniani menambahkan, ketergantungan ekonomi masyarakat lokal terhadap perusahaan perkebunan sawit berpotensi meningkatkan kerawanan pangan, karena masyarakat kehilangan akses terhadap sumber daya alam yang selama ini menjadi penopang hidup.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa berbagai dampak negatif tersebut dapat diminimalkan melalui perencanaan dan pengelolaan yang tepat, transparansi kebijakan, serta partisipasi aktif masyarakat lokal dan pemilik hak ulayat dalam setiap tahapan pembangunan.
Penulis : Amatus Rahakbauw, K



















