Cahaya yang Kembali dari Timur

- Penulis

Senin, 8 Desember 2025 - 13:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Angin sore dari lereng Arfak turun perlahan, membawa aroma hutan yang basah dan desir daun yang saling berbisik. Beta duduk sendiri di tepi kampung, memandang matahari yang mulai tenggelam di balik perbukitan. Setiap kali senja datang, kenangan tentang ko selalu ikut turun bersama cahaya yang memudar.

Beta seng kuat kalau ingat ko pung wajah.
Masih rasa ko berdiri di samping beta, seperti dulu waktu kita jalan di tepian Danau Anggi, tertawa kecil sambil saling bercerita tentang masa depan. Waktu itu beta percaya bahwa masa depan kita bakal jalan beriringan, tapi Tuhan punya rencana lain.

Kadang beta rasa ko datang seperti angin pagi dari Arfak—dingin tapi menenangkan, lembut tapi menusuk hati. Ko hadir dalam mimpi-mimpi yang patah, mimpi yang hilang begitu beta buka mata. Beta coba berdiri, coba kuat, tapi hati ini tetap jatuh setiap kali bayang ko muncul.

Baca Juga  Mengenaskan, Pemkab Batubara Belum Bayar Pekerjaan Pemborong

Nama ko tinggal paling dalam di hati beta,
seperti purnama yang menggantung di langit Marman,
yang seng pernah padam walaupun hujan turun
atau awan gelap menutup malam.

Di banyak malam, beta menangis diam-diam. Tidak ada yang tahu, karena air mata itu jatuh bersama deru ombak yang memecah karang di pantai . Beta ulang kisah yang kita pernah jalan sama-sama—tawa, janji, mimpi, dan doa yang kita ucapkan berdua. Tapi ternyata nasib bilang lain.

Kita cuma dua manusia biasa,
dan Tuhan kasih jalan masing-masing.
Kita bukan lagi pasangan,
kita cuma sahabat
yang dititipkan pada waktu yang berbeda.

Kalau bukan beta yang jaga ko lagi,
maka beta serahkan ko sepenuhnya
kepada Tuhan yang lebih sanggup menjaga ko
daripada siapa pun di dunia ini.

Baca Juga  Penyakit ASN yang Harus Dicegah: Saatnya Bekerja dengan Integritas dan Disiplin Tinggi

Beta cuma minta satu hal kecil:
hilangkan sedikit rasa ngantuk di jalan hidup ko,
biar ko bisa berjalan dengan mata yang terang,
biar ko bisa tertawa lepas lagi,
biar ko benar-benar bahagia
di tempat ko berada sekarang.

Karena meskipun ko jauh,
ko pung cahaya tetap datang ke beta
—seperti matahari yang naik dari Timur Papua,
menerangi seluruh dunia,
tapi paling dulu menyentuh hati beta.

Dan entah kenapa, setiap kali mentari pagi menyibakkan kabut di atas bukit Manokwari, beta selalu percaya satu hal:

Cahaya yang datang dari Timur seng pernah benar-benar hilang.
Dia hanya pergi sebentar,
untuk kembali menyinari hati yang siap menerima.

Baca Juga  Bikin Kaget Gorontalo, Istri Ketum FRN Mendadak Jadi Kepsek

Penulis : Amatus Rahakbauw

Berita Terkait

Jurnalis Diminta Utamakan Integritas dan Solidaritas, Bukan Saling Menjatuhkan
Etika di Atas Senioritas
Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan
Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku
Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif
Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya
Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa
Agus Flores Nobar FIFA 2026 Bersama Kapolda Jabar dan Jajaran Dukung Program Kapolri

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 00:24 WIB

Jurnalis Diminta Utamakan Integritas dan Solidaritas, Bukan Saling Menjatuhkan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Etika di Atas Senioritas

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:35 WIB

Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif

Berita Terbaru

Daerah

13 Tahun Cinta dan Pengabdian MTH Halimah

Minggu, 30 Agu 2026 - 22:39 WIB

You cannot copy content of this page