Pergelaran Caci Manggarai Menjadi Ajang Pertarungan Dan Perkelahian Bebas?

- Penulis

Jumat, 28 November 2025 - 14:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Labuan Bajo, NTT — Refleksi tentang budaya Caci Manggarai dalam bingkai kebudayaan dan praktek adat istiadat di tengah masyarakat dan pengaruh zaman.

Fenomena Caci Manggarai saat ini selalu menjadi atensi masyarakat adat juga penikmat caci, uniknya ada saja momen dimana situasi selalu berubah menjadi petaka dimana praktiknya berubah menjadi ajang pertarungan perkelahian bebas tanpa kehadiran wasit, miriskan?.

Bukankah budaya dan adat-istiadat itu perlu di jaga marwahnya? Lalu siapa yang bertugas menjaga warisan budaya ini?, etika moral di abaikan, pergelaran budaya caci terkesan kasar selalu saja ada tindakan yang merugikan nilai moralitas, sportivitas, kekompakan, dan persaudaraan.

Penulis mencoba menggali beberapa artikel tentang caci, bagaimana Caci Manggarai, memiliki akar yang kuat diwariskan secara turun temurun dari para leluhur sehingga eksistensinya terus terjadi sampai saat ini. Apakah caci manggarai sudah berubah karena perkembangan jaman?, tentu bisa dilihat dari prakteknya di tengah masyarakat.

Baca Juga  Felix Edon Raih Piagam Kategori Pelestari Musik Tradisional Manggarai Anugrah Kebudayaan Indonesia 2025

Nilai moral tarian Caci Manggarai meliputi keberanian, sportivitas, persaudaraan, dan kekompakan. Tarian ini mengajarkan tentang toleransi, keharmonisan, dan kesopanan, serta memiliki nilai keindahan estetika.

Meskipun berupa pertarungan, Caci tetap menjunjung etika moral dan menanamkan nilai-nilai karakter Bangsa yang sesuai dengan Pancasila seperti nilai kemanusiaan dan persatuan.

Nilai-nilai moral utama dalam tarian Caci Keberanian dan keperkasaan: Caci adalah tarian yang menampilkan keberanian dan keperkasaan laki-laki Manggarai simbol jati diri,

Sportivitas: Pertarungan dalam Caci dilakukan dengan menjunjung sportivitas, di mana pemukul dan yang memukul memiliki saling menghargai meskipun dalam sebuah pertarungan saling balas-balasan.

Persaudaraan dan kekeluargaan: Tarian ini mempererat rasa persaudaraan dan kesatuan di antara masyarakat Manggarai, (budaya lonto leok).

Baca Juga  Pernikahan Azrie Hakimi dan Nur Ashimah Berlangsung Khidmat di Masjid Al Islamiyah Kampung Lindungan

Kesopanan dan etika: Meskipun ada unsur kekerasan, Caci tetap berpegang pada etika moral, menjaga tutur kata, dan perilaku yang baik.

Kemanusiaan dan keadilan: Caci mengandung nilai-nilai yang sesuai dengan sila Pancasila, salah satunya adalah nilai kemanusiaan dan keadilan.

Nilai moral yang diajarkan melalui syair dan lagu
Pesan moral: Melalui syair-syair (lomes) yang dinyanyikan, Caci menyampaikan pesan-pesan moral yang menjadi pedoman hidup masyarakat Manggarai, termasuk relasi dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.

Mencari jodoh: Bagi kaum muda, syair ini juga menjadi kesempatan untuk menarik perhatian dan meluluhkan hati pujaan hati mereka.

Tarian ini mengajarkan tentang toleransi, sportivitas, kekompakan, persaudaraan, keharmonisan, dan kesopanan, serta memiliki nilai keindahan estetika.

Baca Juga  Begini Isi Tausyiah Ust Rafdinal di Musda Ke - 2 BKMT Asahan

Caci bukan ajang kemarahan, dan praktik perkelahian, tetapi warisan yang mengajarkan keberanian, kesopanan, persaudaraan, dan hormat kepada sesama. Jika nilai-nilai itu diabaikan, maka yang rusak bukan hanya tradisi, tetapi jati diri masyarakat adat. Menjaga Caci berarti menjaga martabat manusia, budaya, dan moral leluhur.

Ricky

Penulis : Ricky

Berita Terkait

Plh Wali Kota Bersama Forkopimda Lepas Pawai Takbir Idul Adha 1447 H/2026 M 
Musa Rajekshah Apresiasi Semangat Berqurban Kader Pemuda Pancasila Sumut, Tahun Ini Capai 17 Ekor Sapi
MRPB Dorong Model Baru Pembangunan Papua Barat Berbasis Afirmasi dan Legitimasi Adat
Pernikahan Azrie Hakimi dan Nur Ashimah Berlangsung Khidmat di Masjid Al Islamiyah Kampung Lindungan
Hubungan Batu Bara-Malaysia: Lebih Dari Kerja Sama, Ini Ikatan Persaudaraan Serumpun
Penutupan MTQ XIX, Bupati Baharuddin Ajak Masyarakat Islam Memuliakan Al – Qur’an
Ribuan Masyarakat Padati MTQ ke-XIX Batu Bara, Syiar Qur’ani Bergema di Lapangan Indrasakti
Hadiri MTQ XIX Tingkat Kabupaten Batu Bara Bupati Baharuddin Beri Semangat kepada Peserta 

Berita Terkait

Rabu, 27 Mei 2026 - 20:53 WIB

Plh Wali Kota Bersama Forkopimda Lepas Pawai Takbir Idul Adha 1447 H/2026 M 

Rabu, 27 Mei 2026 - 12:23 WIB

Musa Rajekshah Apresiasi Semangat Berqurban Kader Pemuda Pancasila Sumut, Tahun Ini Capai 17 Ekor Sapi

Selasa, 26 Mei 2026 - 08:38 WIB

MRPB Dorong Model Baru Pembangunan Papua Barat Berbasis Afirmasi dan Legitimasi Adat

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:45 WIB

Pernikahan Azrie Hakimi dan Nur Ashimah Berlangsung Khidmat di Masjid Al Islamiyah Kampung Lindungan

Jumat, 22 Mei 2026 - 14:04 WIB

Hubungan Batu Bara-Malaysia: Lebih Dari Kerja Sama, Ini Ikatan Persaudaraan Serumpun

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page