Labuan Bajo, NTT — Refleksi tentang budaya Caci Manggarai dalam bingkai kebudayaan dan praktek adat istiadat di tengah masyarakat dan pengaruh zaman.
Fenomena Caci Manggarai saat ini selalu menjadi atensi masyarakat adat juga penikmat caci, uniknya ada saja momen dimana situasi selalu berubah menjadi petaka dimana praktiknya berubah menjadi ajang pertarungan perkelahian bebas tanpa kehadiran wasit, miriskan?.
Bukankah budaya dan adat-istiadat itu perlu di jaga marwahnya? Lalu siapa yang bertugas menjaga warisan budaya ini?, etika moral di abaikan, pergelaran budaya caci terkesan kasar selalu saja ada tindakan yang merugikan nilai moralitas, sportivitas, kekompakan, dan persaudaraan.
Penulis mencoba menggali beberapa artikel tentang caci, bagaimana Caci Manggarai, memiliki akar yang kuat diwariskan secara turun temurun dari para leluhur sehingga eksistensinya terus terjadi sampai saat ini. Apakah caci manggarai sudah berubah karena perkembangan jaman?, tentu bisa dilihat dari prakteknya di tengah masyarakat.
Nilai moral tarian Caci Manggarai meliputi keberanian, sportivitas, persaudaraan, dan kekompakan. Tarian ini mengajarkan tentang toleransi, keharmonisan, dan kesopanan, serta memiliki nilai keindahan estetika.
Meskipun berupa pertarungan, Caci tetap menjunjung etika moral dan menanamkan nilai-nilai karakter Bangsa yang sesuai dengan Pancasila seperti nilai kemanusiaan dan persatuan.
Nilai-nilai moral utama dalam tarian Caci Keberanian dan keperkasaan: Caci adalah tarian yang menampilkan keberanian dan keperkasaan laki-laki Manggarai simbol jati diri,
Sportivitas: Pertarungan dalam Caci dilakukan dengan menjunjung sportivitas, di mana pemukul dan yang memukul memiliki saling menghargai meskipun dalam sebuah pertarungan saling balas-balasan.
Persaudaraan dan kekeluargaan: Tarian ini mempererat rasa persaudaraan dan kesatuan di antara masyarakat Manggarai, (budaya lonto leok).
Kesopanan dan etika: Meskipun ada unsur kekerasan, Caci tetap berpegang pada etika moral, menjaga tutur kata, dan perilaku yang baik.
Kemanusiaan dan keadilan: Caci mengandung nilai-nilai yang sesuai dengan sila Pancasila, salah satunya adalah nilai kemanusiaan dan keadilan.
Nilai moral yang diajarkan melalui syair dan lagu
Pesan moral: Melalui syair-syair (lomes) yang dinyanyikan, Caci menyampaikan pesan-pesan moral yang menjadi pedoman hidup masyarakat Manggarai, termasuk relasi dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.
Mencari jodoh: Bagi kaum muda, syair ini juga menjadi kesempatan untuk menarik perhatian dan meluluhkan hati pujaan hati mereka.
Tarian ini mengajarkan tentang toleransi, sportivitas, kekompakan, persaudaraan, keharmonisan, dan kesopanan, serta memiliki nilai keindahan estetika.
Caci bukan ajang kemarahan, dan praktik perkelahian, tetapi warisan yang mengajarkan keberanian, kesopanan, persaudaraan, dan hormat kepada sesama. Jika nilai-nilai itu diabaikan, maka yang rusak bukan hanya tradisi, tetapi jati diri masyarakat adat. Menjaga Caci berarti menjaga martabat manusia, budaya, dan moral leluhur.
Ricky
Penulis : Ricky






















