MEDAN – Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara menegaskan pandangan mendasar mengenai hubungan antara Indonesia, khususnya wilayah Batu Bara, dengan Malaysia. Ikatan kedua belah pihak tidak boleh sekadar diukur dari kerja sama perdagangan, nilai investasi, atau kesepakatan diplomatik semata.
Hubungan ini berakar jauh lebih dalam, yakni sebagai persaudaraan serumpun yang lahir dari akar sejarah, penggunaan bahasa, dan kekayaan budaya yang sama dalam bingkai besar peradaban Nusantara yang telah tumbuh berabad lamanya.
Pernyataan sikap tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan Majelis usai menghadiri kegiatan Wacana Bahasa dan Budaya serta pemutaran eksklusif film legendaris Puteri Gunung Ledang. Acara yang berlangsung di Grand Ballroom JW Marriott Hotel Medan pada Kamis (21/5).
Malam itu menjadi wadah pertemuan para tokoh adat, budayawan, dan para pemangku kepentingan dari kedua negara untuk merenungkan kembali nilai-nilai luhur yang menyatukan masyarakat Melayu di kedua sisi perbatasan.
Dalam kesempatan itu, Ketua Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara, Dato’ Setiawangsa II, dan Dewan Pakar, Ok Zulfan, sepakat sepenuhnya dengan pandangan Konsul Jenderal Malaysia di Medan, Shahril Nizam Abdul Malek. Shahril menekankan bahwa hubungan bilateral harus diperkuat melalui tiga pilar utama yang tak terpisahkan: bahasa yang berfungsi menyatukan pikiran, budaya yang mempersatukan perasaan, serta ikatan persaudaraan yang menjadi landasan membangun masa depan bersama yang lebih baik.
Lebih jauh, Dato’ Setiawangsa II menilai film Puteri Gunung Ledang bukan sekadar tontonan hiburan belaka, melainkan cerminan jati diri masyarakat Melayu Nusantara.
Karya tersebut sarat pesan tentang nilai cinta, pengorbanan, harga diri, penggunaan bahasa yang santun, serta tata krama yang menjunjung tinggi budi pekerti. Nilai-nilai inilah yang menurutnya masih hidup dan menjadi pedoman dalam keseharian masyarakat Melayu di pesisir Timur Sumatera, termasuk di wilayah Batu Bara.
Di tengah derasnya arus globalisasi yang berpotensi menggerus nilai-nilai tradisi, Ok Zulfan mengingatkan pentingnya menjaga adab dan kesantunan sebagai ciri khas budaya Melayu. Ia menegaskan pesan bahwa “suara kita adalah bahasa kita, akar kita adalah budaya kita, dan arah kita adalah jati diri kita” sangat relevan untuk dijaga.
Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara menegaskan komitmen penuh untuk terus melestarikan warisan serumpun ini, agar nilai luhur tersebut tetap hidup dan diteruskan kepada generasi muda kedua bangsa.
Penulis : R Ramadhan

















