Kini Aku Memilih Pergi

- Penulis

Minggu, 12 Oktober 2025 - 09:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: Amatus.Rahakbauw. K

Ada saat di mana hati berhenti berjuang, bukan karena cinta itu padam, melainkan karena ia terlalu lelah untuk terus bertahan dalam luka yang tak kunjung sembuh.
Aku pernah percaya bahwa setiap hubungan bisa diselamatkan, asal dua hati masih ingin berpegang. Tapi ternyata, aku berjuang sendirian di tengah medan yang perlahan menelanku dalam diam.

Hari-hari berlalu dengan percakapan yang semakin hampa. Janji tinggal janji, dan perhatian berubah menjadi tatapan asing yang tak lagi mengenal makna. Dalam diam, aku belajar bahwa cinta tanpa kejujuran hanyalah bayangan yang tak bisa digenggam.

Kini aku memilih pergi.
Bukan karena aku kalah, bukan pula karena aku ingin menghindar. Aku pergi karena ingin menemukan diriku sendiri yang hilang di antara kebohongan dan harapan yang tak pernah kau tepati.

Baca Juga  Iman Jalan Pribadi, Bukan Titipan pada Tokoh Rohani

“Jangan cari aku lagi, Jang Saleh,” bisikku pelan, seolah kata-kata itu tertiup bersama angin senja. “Aku sudah lelah, dan aku tak akan kembali.”

Biarkan langkahku menjauh, membawa sisa luka yang perlahan akan sembuh oleh waktu.
Biarkan aku belajar mencintai lagi — bukan orang lain, tapi diriku sendiri.

Jika suatu hari nanti kau mengenangku, ingatlah aku bukan sebagai seseorang yang menyerah, melainkan sebagai jiwa yang memilih tenang.
Karena mencintai bukan selalu tentang memiliki, tapi tentang tahu kapan harus berhenti agar hati tak semakin hancur.

Selamat berbahagia dengan cinta yang kau pilih.
Dan aku, dengan segala luka yang kutinggalkan, akan terus melangkah. Sebab untuk pertama kalinya dalam hidup, aku memilih pergi — bukan karena benci, tapi karena ingin kembali mencintai diriku sendiri.

Baca Juga  Perayaan 1 Abad Injil Masuk Wondama — Momen Perubahan Hidup, Bukan Sekadar Euforia

Berita Terkait

Masa Depan Terlalu Mahal untuk Ditukar dengan Pergaulan Salah
Ziarah Makam Putri Compo–Brawijaya V, Roro Mariam: Jika Cucu Brawijaya V Datang, Kami Harus Menyiapkan Bunga
Buang Keangkuhan, Rawat Kerendahan Hati: Wartawan Bukan untuk Menjatuhkan Sesama
Agus Flores Curhat di Besuki: Mengenang Sang Ayah, Dari Sejarah Keluarga Hingga Perjalanan Polri
Pelayanan Bukan Soal Jabatan, Tapi Tanggung Jawab Hamba Tuhan
Hutan Menangis, Negeri Terdiam
Ketika Alam Mulai Menagih
Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 20:37 WIB

Masa Depan Terlalu Mahal untuk Ditukar dengan Pergaulan Salah

Minggu, 1 November 2026 - 11:31 WIB

Ziarah Makam Putri Compo–Brawijaya V, Roro Mariam: Jika Cucu Brawijaya V Datang, Kami Harus Menyiapkan Bunga

Senin, 26 Oktober 2026 - 23:59 WIB

Buang Keangkuhan, Rawat Kerendahan Hati: Wartawan Bukan untuk Menjatuhkan Sesama

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:25 WIB

Agus Flores Curhat di Besuki: Mengenang Sang Ayah, Dari Sejarah Keluarga Hingga Perjalanan Polri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Pelayanan Bukan Soal Jabatan, Tapi Tanggung Jawab Hamba Tuhan

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page