Banyak orang yang terjebak dalam kesombongan dan keangkuhan. Mereka mudah sekali menceritakan keburukan orang lain, menjelek-jelekkan, bahkan menertawakan tanpa mengetahui kebenaran. Kata-kata kasar, ejekan, dan hinaan dengan seribu satu bahasa sering kali mereka lontarkan, seolah-olah menjatuhkan orang lain bisa membuat diri mereka lebih tinggi.
Namun, orang yang dihujat itu memilih berdiam diri. Ia tidak membalas, tidak membantah, dan tetap tenang. Tiba-tiba, datanglah seseorang yang mengenal baik dirinya. Dengan sopan, ia menyapa, mengulurkan tangan, dan bersalaman penuh hormat. Mereka berbincang hangat sambil berdiri, menunjukkan bahwa orang yang dihina itu sebenarnya adalah sosok yang berprofesi jelas dan sangat dihargai.
Saat itu semua mata tertegun, lalu menunduk malu. Mereka yang tadinya mencibir dan menghina sadar bahwa apa yang mereka katakan hanyalah kebodohan yang memalukan.
Di balik hinaan yang tersebar, terutama di media sosial, sering kali tersimpan kebenaran yang berbeda. Sayangnya, banyak orang langsung percaya tanpa mau mengkroscek, tanpa berpikir panjang. Padahal, yang mereka hina bisa jadi justru sosok yang mulia, berharga, dan penuh manfaat bagi banyak orang.
Pesanku: dalam menggunakan media sosial, marilah kita bijak. Jangan asal bicara, jangan asal bunyi. Sebelum mengetik atau berkata, pikirkan dulu baik-baik. Kata-kata kita bisa membangun, tetapi juga bisa menghancurkan. Bijaklah dalam berkata, agar kita tidak terjebak dalam kesombongan dan penyesalan.
Tuhan Yesus memberkati kita semua.
God bless you.
Penulis : Amatus Rahakbauw. K




















