Manokwari — Siang itu cerah, seolah ikut bersuka cita menyambut sebuah momen berharga. Di sebuah ruangan yang dipenuhi tawa hangat, doa, dan aroma bunga segar, Ny. Juliana A. Mandacan Kiriweno, M.Si., menerima ucapan selamat dari keluarga, sahabat, dan para tamu yang hadir. Hari itu, ia genap berusia 60 tahun—enam dekade perjalanan yang penuh warna.
Bagi banyak orang, angka 60 mungkin hanya penanda waktu. Namun bagi Juliana, istri dari Drs. Dominggus Mandacan, M.Si., Gubernur Papua Barat, usia ini adalah mahkota pengalaman yang ditempa oleh kerja keras, pengabdian, dan cinta yang tak pernah pudar.
Sejak awal mendampingi sang suami, Juliana memilih untuk tidak sekadar menjadi “pendamping di balik layar.” Ia hadir di tengah masyarakat, mendengar keluhan warga, ikut menggerakkan kegiatan sosial, hingga memfasilitasi program pemberdayaan perempuan. Baginya, peran seorang istri pejabat bukan hanya mendampingi dalam seremoni resmi, melainkan turut membangun fondasi kesejahteraan bagi banyak orang.
Ia kerap mengatakan bahwa menjadi istri seorang pemimpin adalah amanah besar. “Kita bukan hanya dikenal sebagai istri pejabat, tetapi sebagai pribadi yang bisa memberi teladan,” ucapnya suatu ketika kepada sekelompok ibu rumah tangga di sebuah acara pelatihan keterampilan.
Juliana percaya bahwa kematangan tidak datang seiring bertambahnya usia, melainkan lahir dari kesabaran melewati badai kehidupan. Ia menjalani perannya dengan tiga kunci: ketulusan, kesabaran, dan kesediaan untuk belajar hal baru. Di balik kelembutannya, tersimpan tekad yang kuat untuk terus berkarya, bahkan di usia yang banyak orang anggap sebagai masa istirahat.
Enam puluh tahun mengajarkannya bahwa hidup tidak diukur dari berapa lama kita bernapas, tetapi dari seberapa banyak kita membuat orang lain merasakan arti hidup. Dan itu pula yang membuatnya selalu tersenyum tulus, meski beban tugas kadang tak ringan.
Kisah Juliana menjadi cermin bagi banyak istri pejabat di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Ia membuktikan bahwa posisi dan pengaruh dapat digunakan untuk membangun, bukan sekadar untuk disorot publik. Ia menggerakkan hati para perempuan untuk tidak takut melangkah keluar dari zona nyaman, untuk memulai usaha, menginisiasi program sosial, atau bahkan sekadar menjadi pendengar yang baik bagi warga sekitar.
Juliana sadar, setiap istri pejabat punya panggungnya masing-masing. Namun ia meyakini, panggung itu akan bermakna jika digunakan untuk memberi cahaya bagi banyak orang. “Apa yang kita tanam hari ini, akan tumbuh menjadi warisan yang diingat jauh setelah jabatan berakhir,” katanya, penuh keyakinan.
Enam dekade sudah ia jalani, namun Juliana tidak melihatnya sebagai garis akhir. Justru ia menyebut ini sebagai “awal bab baru”—bab yang akan diisi dengan lebih banyak pelayanan, karya sosial, dan dukungan untuk generasi muda.
Perayaan ulang tahunnya diakhiri dengan doa dan ucapan syukur. Para tamu pulang dengan hati hangat, sebagian membawa pulang lebih dari sekadar kenangan pesta—mereka membawa pulang inspirasi.
Selamat ulang tahun, Ny. Juliana A. Mandacan Kiriweno. Enam puluh tahun yang penuh teladan, dan masa depan yang masih menunggu untuk ditulis dengan tinta kasih dan pengabdian.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K





















