Tangerang Selatan — Di antara riuh gemerlap ibu kota, sebuah jalan desa di Ciputat Timur menjadi saksi bisu: nasionalisme sejati ternyata hidup di tengah tetangga! Sebanyak 150 (±) warga RW 10 Cirendeu dari kakek yang pernah angkat bambu runcing, ibu-ibu yang menyiapkan nasi tumpeng, hingga anak kecil yang pertama kali ikat tali sepatu untuk upacara bersatu menghidupkan kembali makna kemerdekaan di Jalan Masjid Darussa’adah.
Barisan rapi mereka mengubah aspal jalanan menjadi “karpet merah-putih”. Naufal Syarif Hasyimi (Ketua Pelaksana), pemuda-pemudi OKP Batas Kota tak hanya mengibarkan bendera tapi meneruskan napak tilas para pendahulu yang menanamkan darah patriotisme di tanah Cirendeu. Lantunan Indonesia Raya bergema, menyatukan degup jantung warga yang tak ingin kemerdekaan hanya jadi kisah buku.
Bapak Ferdy Ruliandi (Penasihat Kepemudaan): “80 tahun merdeka bukan angka! Ini bukti: selama api gotong royong masih menyala di RT/RW, Indonesia takkan pernah jatuh!”.
Bapak Suyanto (Ketua RW 10): “Lihatlah anak-anak kita yang berkibar-kibar benderanya! Upacara ini bukan ritual ini sekolah nyata tempat kita ajarkan arti ‘Bhinneka Tunggal Ika’ pada generasi penerus!”.
Penulis : Dhanu





















