RUTENG, NTT — Upaya menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini terus digalakkan di lingkungan pendidikan. Salah satunya dilakukan oleh SMAN 2 Langke Rembong melalui program “Satu Sekolah Satu Produk” yang terintegrasi dengan pengelolaan NTT Mart sebagai wadah pemasaran dan praktik usaha siswa.
Program ini merupakan bagian dari kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mendorong setiap sekolah menghasilkan produk unggulan bernilai ekonomi. Selain itu, program ini dirancang sebagai media pembelajaran berbasis praktik guna menghubungkan teori di kelas dengan pengalaman nyata di lapangan.
Kepala SMAN 2 Langke Rembong dalam keterangannya menyampaikan bahwa program tersebut menjadi bentuk dukungan sekolah terhadap kebijakan pemerintah daerah dalam meningkatkan inovasi pendidikan sekaligus berkontribusi pada pengembangan ekonomi lokal.
“Program ini tidak hanya untuk lingkungan sekolah, tetapi juga diharapkan memberi manfaat bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Dalam implementasinya, sekolah telah menetapkan sejumlah kebijakan internal dengan melibatkan seluruh komponen pendidikan. Setiap unsur, mulai dari guru hingga tenaga kependidikan, diberi peran sesuai kompetensi untuk mendukung pengelolaan program kewirausahaan.
Produk yang dikembangkan berfokus pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), baik berupa barang maupun jasa yang memiliki nilai jual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan mampu memahami proses bisnis secara menyeluruh, mulai dari produksi hingga pemasaran.
Meski demikian, pelaksanaan program saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan. Pengelolaan NTT Mart yang baru diresmikan menyebabkan keterlibatan siswa belum berjalan optimal.
Seorang guru di sekolah tersebut mengungkapkan bahwa operasional NTT Mart sementara masih dikelola oleh guru dan pihak sekolah. “Siswa belum dilibatkan secara langsung karena sistemnya masih dalam tahap penataan,” katanya.
Kendala lain yang dihadapi adalah minimnya jumlah pengunjung dan pembeli. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya informasi yang sampai ke masyarakat terkait keberadaan NTT Mart. Selain itu, aspek manajemen usaha juga masih dalam tahap penyesuaian.
Keterbatasan sumber daya manusia turut menjadi tantangan. Guru yang terlibat dalam program masih harus menjalankan tugas utama mengajar, sehingga belum dapat sepenuhnya fokus pada pengelolaan usaha.
Meski menghadapi sejumlah hambatan, pihak sekolah optimistis program ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Keterlibatan langsung dalam aktivitas kewirausahaan diyakini mampu memberikan pengalaman praktis yang lebih efektif bagi siswa.
Program ini juga mendapat dukungan dari pemerintah provinsi melalui pendampingan dan arahan teknis guna memastikan pengelolaan berjalan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Ke depan, SMAN 2 Langke Rembong berkomitmen mengembangkan program ini menjadi model kewirausahaan sekolah yang lebih terstruktur dan profesional. Dengan penguatan sistem dan peningkatan partisipasi siswa, program ini diharapkan mampu mencetak generasi muda yang kreatif, mandiri, dan berdaya saing.
Secara keseluruhan, implementasi “Satu Sekolah Satu Produk” menunjukkan potensi signifikan dalam pengembangan pendidikan berbasis kewirausahaan di Nusa Tenggara Timur, sekaligus menjadi langkah strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor pendidikan.
Di susun oleh :
Helena Dhesti Charista
Anisa Dasung
Karolina A. Yosmi
Fredensiana Yestin Janum





















