MANOKWARI — Universitas Caritas Indonesia (UNCRI) mewisuda sebanyak 173 lulusan dalam prosesi wisuda yang digelar di Manokwari, yang sekaligus menjadi momentum evaluasi dan tantangan peningkatan kualitas kelembagaan.
Rektor UNCRI, Robert K.H. Hammar, dalam laporannya menyampaikan bahwa saat ini UNCRI memiliki sekitar 1.160 mahasiswa yang tersebar di lima program studi.
Jumlah tenaga pengajar tercatat sebanyak 51 dosen tetap, dengan tambahan sekitar 9 persen dosen tidak tetap.
Dari sisi kualifikasi akademik, UNCRI telah memiliki dua guru besar, dua lektor kepala, dan 10 lektor, sementara sisanya berstatus asisten ahli. Namun demikian, peningkatan kapasitas dosen masih menjadi pekerjaan rumah, mengingat tiga dosen masih menempuh pendidikan magister dan 25 lainnya sedang menjalani program doktor.
“Dengan gambaran tersebut, kami menargetkan pada 2028 program studi Ilmu Hukum dan Manajemen dapat meraih akreditasi unggul,” ujar Robert.
Ia menjelaskan, pencapaian target tersebut memerlukan konsistensi dalam pengembangan sumber daya manusia serta perbaikan tata kelola institusi.
Upaya itu dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak, baik perguruan tinggi dalam dan luar negeri, maupun pemerintah daerah seperti Pemerintah Provinsi Papua Barat, Pemerintah Kabupaten Manokwari, dan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni, termasuk kolaborasi dengan Universitas Papua serta sejumlah instansi swasta.
Di tengah keterbatasan yang ada, UNCRI juga mencatat sejumlah prestasi mahasiswa, di antaranya meraih juara 1 dan 2 debat ilmiah, juara 2 debat hukum, juara 1 dan 2 karya tulis ilmiah, serta juara 1 paduan suara.
Meski demikian, tantangan ke depan dinilai tidak ringan. Kualitas lulusan dan daya saing institusi menjadi perhatian utama, terutama di tengah persaingan antarperguruan tinggi yang semakin ketat.
Kepada para wisudawan, Robert menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk menghadapi tantangan di dunia nyata.
“Kesuksesan bukan tentang seberapa cepat kalian sampai, tetapi seberapa kuat kalian bertahan. Kegagalan bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses untuk menemukan arah yang lebih tepat,” tegasnya.
Penulis : Amatus Rahakbauw, K




















