Angin sore dari lereng Arfak turun perlahan, membawa aroma hutan yang basah dan desir daun yang saling berbisik. Beta duduk sendiri di tepi kampung, memandang matahari yang mulai tenggelam di balik perbukitan. Setiap kali senja datang, kenangan tentang ko selalu ikut turun bersama cahaya yang memudar.
Beta seng kuat kalau ingat ko pung wajah.
Masih rasa ko berdiri di samping beta, seperti dulu waktu kita jalan di tepian Danau Anggi, tertawa kecil sambil saling bercerita tentang masa depan. Waktu itu beta percaya bahwa masa depan kita bakal jalan beriringan, tapi Tuhan punya rencana lain.
Kadang beta rasa ko datang seperti angin pagi dari Arfak—dingin tapi menenangkan, lembut tapi menusuk hati. Ko hadir dalam mimpi-mimpi yang patah, mimpi yang hilang begitu beta buka mata. Beta coba berdiri, coba kuat, tapi hati ini tetap jatuh setiap kali bayang ko muncul.
Nama ko tinggal paling dalam di hati beta,
seperti purnama yang menggantung di langit Marman,
yang seng pernah padam walaupun hujan turun
atau awan gelap menutup malam.
Di banyak malam, beta menangis diam-diam. Tidak ada yang tahu, karena air mata itu jatuh bersama deru ombak yang memecah karang di pantai . Beta ulang kisah yang kita pernah jalan sama-sama—tawa, janji, mimpi, dan doa yang kita ucapkan berdua. Tapi ternyata nasib bilang lain.
Kita cuma dua manusia biasa,
dan Tuhan kasih jalan masing-masing.
Kita bukan lagi pasangan,
kita cuma sahabat
yang dititipkan pada waktu yang berbeda.
Kalau bukan beta yang jaga ko lagi,
maka beta serahkan ko sepenuhnya
kepada Tuhan yang lebih sanggup menjaga ko
daripada siapa pun di dunia ini.
Beta cuma minta satu hal kecil:
hilangkan sedikit rasa ngantuk di jalan hidup ko,
biar ko bisa berjalan dengan mata yang terang,
biar ko bisa tertawa lepas lagi,
biar ko benar-benar bahagia
di tempat ko berada sekarang.
Karena meskipun ko jauh,
ko pung cahaya tetap datang ke beta
—seperti matahari yang naik dari Timur Papua,
menerangi seluruh dunia,
tapi paling dulu menyentuh hati beta.
Dan entah kenapa, setiap kali mentari pagi menyibakkan kabut di atas bukit Manokwari, beta selalu percaya satu hal:
Cahaya yang datang dari Timur seng pernah benar-benar hilang.
Dia hanya pergi sebentar,
untuk kembali menyinari hati yang siap menerima.
Penulis : Amatus Rahakbauw




















