Batu Bara — Dua kelurahan di Kabupaten Batu Bara dilaporkan mengalami krisis air bersih selama tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat warga yang ada di dua kelurahan kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mencuci dan lainnya.
Kendala terjadi akibat belum optimalnya distribusi air oleh PDAM Tirta Tanjung, yang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara maksimal hingga saat ini, Minggu (23/11/2025).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sumur bor di Kelurahan Labuhan Ruku yang menjadi salah satu sumber suplai air telah berhenti beroperasi. Infrastruktur tersebut merupakan fasilitas yang dibangun pada tahun 1982 dan kini telah berusia sekitar 43 tahun. Sumur bor ini diketahui sudah tidak aktif total selama lebih dari setahun terakhir.
Sementara itu, infrastruktur serupa di Kelurahan Tanjung Tiram yang dibangun pada tahun 2004 juga mengalami kerusakan berupa kebocoran pipa utama. Kerusakan tersebut diperkirakan terjadi lebih dari tiga bulan dan belum mendapatkan perbaikan optimal.
Akibat kondisi itu, masyarakat terpaksa mengandalkan air sumur pribadi, membeli air galon, atau menunggu bantuan tangki air. Warga menyebut kondisi ini sangat memberatkan terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Sejumlah tokoh masyarakat dan warga terdampak meminta pemerintah daerah tidak hanya diam dan berpangku tangan. Mereka mendesak Pemkab Batu Bara bersama PDAM Tirta Tanjung untuk segera mencari solusi konkret agar suplai air bersih dapat kembali normal.
“Pemerintah harus turun tangan. Ini kebutuhan dasar. Jangan biarkan masyarakat terus kesulitan,” ujar salah satu warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PDAM maupun Pemerintah Kabupaten Batu Bara terkait langkah penanganan maupun rencana perbaikan.
Warga berharap krisis air bersih dapat segera diatasi agar mereka kembali dapat menikmati akses air layak untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Penulis : Tim





















