Di sebuah kantor pemerintah yang ramai setiap pagi, para pegawai datang dengan semangat. Komputer menyala, berkas dibuka, dan aroma kopi memenuhi ruangan. Namun, di tengah kesibukan itu, ada saja yang tak lepas dari gawai — sibuk live di media sosial.
Setiap jam kerja, bukan hanya suara ketikan yang terdengar, tapi juga suara tawa dan sapaan online. Kamera ponsel menyala, menampilkan wajah-wajah yang seharusnya sedang sibuk melayani masyarakat. Komentar pun bermunculan — sayangnya, tidak semua membangun. Ada yang bercanda, ada yang membahas hal pribadi, bahkan ada yang tak pantas untuk ruang publik.
Padahal, pekerjaan menumpuk. Laporan belum selesai, pelayanan masih berjalan, dan waktu terus berputar.
Suatu hari, pimpinan kantor memanggil para pegawai. Dengan nada lembut tapi tegas, beliau berkata:
“Bapak dan Ibu, mari kita sama-sama jaga profesionalitas. Waktu kerja adalah waktu untuk melayani dan bekerja dengan sepenuh hati. Mohon hentikan dulu kegiatan live di media sosial selama jam kantor. Kalau sudah pulang ke rumah, silakan mau live — itu hak pribadi. Tapi ingat, gunakan media sosial untuk hal-hal positif, yang memberi contoh dan dampak baik bagi masyarakat. Bukan untuk bercanda yang tidak membangun.”
Sejak itu, suasana kantor berubah. Pegawai menjadi lebih fokus, pelayanan semakin baik, dan hasil kerja terasa nyata. Setelah jam pulang, beberapa pegawai tetap aktif di media sosial — tapi dengan isi yang positif: berbagi informasi bermanfaat, motivasi, atau kisah inspiratif dari tempat kerja mereka.
Dari pengalaman itu, mereka belajar satu hal penting:
“Menjadi pegawai bukan hanya tentang hadir di kantor, tapi tentang memberi teladan dan dampak baik — baik di dunia nyata maupun di dunia maya.”
Penulis : Amatus Rahakbauw






















