Cermin Dosa di Hadapan Salib

- Penulis

Jumat, 19 September 2025 - 10:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Di sebuah kota kecil di tepi laut, tinggal seorang hakim bernama Elyas. Ia dikenal sebagai sosok yang tegas, lurus, dan tak segan-segan menegur orang yang bersalah. Setiap kali ada persidangan, Elyas selalu mengutip hukum dengan suara lantang, seakan-akan dirinya adalah teladan kesempurnaan.

“Manusia berdosa harus dihukum setimpal!” katanya suatu pagi dalam sidang, sambil mengetukkan palu.

Orang-orang menghormatinya, namun di balik wibawa itu, Elyas mulai merasa dirinya lebih suci daripada orang lain. Ia rajin membaca firman, tetapi firman itu hanya ia gunakan untuk menunjuk kesalahan sesamanya.

Suatu sore, badai mengguncang kota itu. Berkas-berkas penting di kantor Elyas hilang, dan ia dituduh lalai. Dalam panik, ia berusaha menutupi kesalahannya dengan memalsukan tanda tangan seorang staf. Tak lama kemudian, kecurangan itu terbongkar.

Baca Juga  Gereja Tanpa Struktur Jelas? Jangan Heran Pelayanannya Kacau

Nama baik yang dibangunnya selama bertahun-tahun runtuh seketika. Elyas diadili di ruang sidang yang biasanya ia pimpin sendiri. Kini ia duduk sebagai terdakwa. Orang-orang berbisik, “Hakim yang dulu rajin menghakimi orang lain, ternyata juga berdosa.”

Hatinya hancur. Untuk pertama kalinya, Elyas menyadari betapa rapuh dirinya.

Malam itu, di kamar sunyi, ia membuka Alkitab yang sudah lama berdebu. Matanya jatuh pada Yohanes 8:7:

“Siapakah di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Air matanya jatuh. Ayat itu seperti pedang menembus hatinya. Elyas teringat betapa sering ia melempar “batu penghakiman” kepada orang lain, seolah-olah dirinya tanpa cela. Kini, ia justru tergeletak di tanah, disingkapkan aibnya di hadapan banyak orang.

Baca Juga  Di Atas Uang, Ada Air Mata Orang Kampung

Di dalam doa, ia berlutut:
“Ya Tuhan, ampunilah aku. Aku bukan hakim yang benar. Aku hanyalah manusia berdosa yang membutuhkan kasih karunia-Mu.”

Hari-hari berikutnya, Elyas tidak lagi hidup dengan kesombongan. Ia tetap menjadi hakim, tetapi dengan hati yang penuh belas kasih. Dalam setiap persidangan, ia tidak lagi cepat menghakimi, melainkan berusaha melihat manusia di hadapannya dengan kacamata kasih Kristus.

“Dulu aku berpikir diriku benar,” katanya pada jemaat dalam sebuah pertemuan doa. “Namun kini aku tahu, di hadapan salib Kristus, kita semua sama: pendosa yang ditebus oleh darah-Nya.”

Cerita Elyas menjadi pengingat bahwa siapa pun kita—pendeta, hakim, pemimpin, atau rakyat kecil—tidak ada yang benar di hadapan Allah tanpa kasih karunia Kristus. Firman berkata:

Baca Juga  Se-ekor Biayawak Hebohkan Warga Labuhan Ruku

“Sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Roma 3:23)

Dan hanya di dalam salib Kristuslah kita menemukan pengampunan dan kekuatan untuk tidak lagi hidup dalam kesombongan, melainkan dalam kerendahan hati.

Akhirnya, cermin dosa bukan untuk menuding orang lain, melainkan untuk melihat diri kita di hadapan salib.

 

Penulis : Amatus.Rahakbauw.K

Berita Terkait

Hutan Menangis, Negeri Terdiam
Ketika Alam Mulai Menagih
Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran
Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami
Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan
Jaga Marwah dan Identitas Kabupaten Batu Bara Serukan Pelestarian Budaya Melalui Peringatan Hari Bertanjak Sedunia 2026
MBG Tanjung Tiram dipertanyakan: 67 Instansi, baru 23 Terlayani 44 Masih Menunggu
Prabowo Terapkan “Politik Othello”: Rangkul Lawan Jadi Sekutu

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:35 WIB

Hutan Menangis, Negeri Terdiam

Jumat, 25 September 2026 - 11:33 WIB

Ketika Alam Mulai Menagih

Rabu, 23 September 2026 - 09:42 WIB

Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran

Sabtu, 19 September 2026 - 10:11 WIB

Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami

Rabu, 16 September 2026 - 14:00 WIB

Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan

Berita Terbaru

DPRD Murung Raya

Dina Maulidah Terima Penghargaan Penggerak Literasi 2026

Sabtu, 10 Okt 2026 - 03:04 WIB

DPRD Murung Raya

Rumiadi Tegaskan Dukungan DPRD untuk Sekda Definitif Murung Raya

Sabtu, 10 Okt 2026 - 02:31 WIB

DPRD Murung Raya

Dina Maulidah Hadiri Pelantikan Sekda Definitif Murung Raya

Sabtu, 10 Okt 2026 - 01:25 WIB

You cannot copy content of this page