Bondowoso, Tempotimur.com – Suasana khidmat dan penuh semangat terasa di Desa Sumber Wringin, Kecamatan Sumber Wringin, Bondowoso, saat dicanangkannya desa ini sebagai Desa Budaya.
Masyarakat tumpah ruah mengikuti prosesi adat Selamatan Bumi Raung Nyontheng Kolbuk, sebuah tradisi turun-temurun yang kini menjadi salah satu syarat penetapan desa budaya oleh pemerintah, (23/7/2025).
Kepala Desa Sumber Wringin, Dedy Hendriyanto, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran berbagai pihak dalam kegiatan tahunan tersebut.
Dalam sambutannya, Dedy menegaskan bahwa Desa Sumber Wringin merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Bondowoso yang sejak lama telah memiliki kekayaan budaya yang hidup dan lestari.
“Alhamdulillah, pada tahun 2002, pariwisata kami mendapat rekomendasi sebagai bagian dari desa budaya. Tradisi ini diwariskan turun-temurun dan masih kami lestarikan hingga kini. Apa yang kami tampilkan hari ini bukanlah rekayasa, tetapi murni tradisi asli desa. Meski dengan segala keterbatasan, kami bangga karena masyarakat kami senantiasa mendukung program-program budaya desa,” ungkapnya.
Acara Selamatan Bumi Raung sendiri menjadi pusat perhatian. Di dalamnya terdapat berbagai ritual budaya, mulai dari penyembelihan kambing saat subuh dan penguburan kepala kambing di mata air desa, hingga tradisi memasak daging oleh kaum laki-laki tanpa melibatkan perempuan sebuah adat unik yang masih dilestarikan.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Mulyadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Menurutnya, Sumber Wringin menjadi desa dengan nilai tertinggi dari tiga desa nominator yang diseleksi sejak enam bulan lalu.
“Salah satu syarat utama menjadi desa budaya adalah adanya kegiatan budaya tahunan yang berakar dari tradisi lokal. Apa yang dilakukan Desa Sumber Wringin ini sangat memenuhi kriteria. Selain itu, tarian yang ditampilkan juga hasil seleksi ketat dan pembinaan satu minggu oleh Disparbudpora. Tema tarian tahun ini adalah ‘New Tengker Putih’ sebagai simbol pencanangan Desa Budaya Bumi Raung,” jelas Mulyadi.
Tak hanya itu, dalam acara ini juga ditampilkan prosesi budaya seperti arak-arakan gunungan, bentengan kalbup, istighosah, serta pelepasan burung dara.
Semua pertunjukan seni, mulai dari tari hingga kostum, merupakan karya murni warga desa, terutama pelajar SMP dan SMA.
Mewakili Bupati Bondowoso, Sekretaris Daerah (Sekda) Dr. Fathur Rozi turut hadir dan memberikan apresiasi tinggi.
Ia menyampaikan salam hangat dari Bupati Abdul Hamid Wahid yang berhalangan hadir karena tugas di Jakarta.
“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tapi perwujudan nyata bagaimana budaya menjadi pondasi pembangunan masyarakat. Presiden Prabowo dalam Nawacita Budaya menyebutkan bahwa membangun bangsa dimulai dari desa. Ketika desa kuat dengan nilai-nilai luhur, maka bangsa pun kokoh,” ujar Fathur Rozi.
Lebih lanjut, Sekda mendorong agar warisan budaya seperti tarian lokal dijadikan muatan lokal dalam kurikulum sekolah dasar hingga menengah. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga makna di balik setiap gerakan seni.
“Gerakan tari tak hanya estetika, tapi sarat makna. Misalnya, tarian ‘Nyontes’ yang berarti sumber mata air. Ini mengajarkan anak-anak kita untuk menjaga lingkungan dan sumber penghidupan. Inilah pentingnya budaya menjadi pijakan pembangunan desa,” tuturnya.
Di akhir sambutannya, Sekda juga menyisipkan pesan tersirat menanggapi sambutan Kepala Desa soal kondisi infrastruktur desa:
“Saya tangkap maksud Pak Kades tadi. Mungkin jalannya perlu diperhatikan. Bahasa beliau halus, tapi saya pahami: ada lubang-lubang yang perlu ditambal. Insyaallah akan menjadi perhatian kami,” ucapnya disambut gelak tawa hadirin.
Penetapan Desa Sumber Wringin sebagai Desa Budaya Bumi Raung diharapkan mampu menjadi role model bagi desa-desa lain di Bondowoso untuk mengangkat budaya sebagai kekuatan pembangunan lokal yang berkelanjutan.
Penulis : Tim























