Cerpen:
TEMPO TIMUR — Dalam suatu minggu yang tampak biasa, dua pelayanan besar dijadwalkan secara bersamaan: Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di sebuah gereja, dan Persekutuan Doa di tempat lain.
Keduanya bertujuan sama—membangkitkan iman, menyentuh jiwa-jiwa, dan memuliakan Tuhan. Namun, alih-alih bersatu dalam doa dan dukungan, yang muncul justru perdebatan: “Kenapa mereka buat acara sendiri? Kenapa tidak gabung saja? Kenapa harus bersamaan?”
Pertanyaan-pertanyaan yang berakar bukan pada kasih, melainkan pada ego dan rasa kepemilikan atas pelayanan.
Sungguh menyedihkan ketika pelayan-pelayan Tuhan saling menuduh dan menyindir, bukan dengan hikmat tetapi dengan emosi. Saling mempertanyakan otoritas satu sama lain, saling curiga, bahkan menuduh tanpa dasar rohani yang sehat.
“Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.”
— Filipi 2:2
Pelayanan bukanlah tentang menjadi yang utama, melainkan melayani yang terlupakan. Bukankah ladang pelayanan begitu luas? Bukankah tuaian banyak tetapi pekerja sedikit? Mengapa justru ketika pekerja-pelayan muncul di ladang lain, kita merasa terancam? Apakah kita sedang membangun Kerajaan Allah, atau sedang memperluas pengaruh pribadi?
“Setiap kerajaan yang terpecah-pecah melawan dirinya sendiri akan runtuh.”
— Lukas 11:17
Saat dua pelayanan terjadi bersamaan, apakah salah? Tentu tidak. Yang salah adalah hati yang tidak bisa bersukacita melihat orang lain dipakai Tuhan.
Jangan sampai pelayanan kita menjadi seperti anak sulung dalam perumpamaan anak yang hilang—melayani di rumah tapi hatinya penuh iri dan kemarahan ketika saudara yang lain dipulihkan.
Kita harus jujur dan bertobat. Terkadang kerasnya suara kita bukan karena kebenaran, tapi karena luka dalam hati yang belum disembuhkan. Terkadang kita menamakan kritik sebagai “teguran kasih”, padahal yang keluar adalah kepahitan rohani yang dibungkus firman.
“Janganlah kita saling bermegah diri dan saling menantang dan saling mendengki.”
— Galatia 5:26
Waktunya Gereja bangkit bukan sebagai organisasi yang saling bersaing, tapi sebagai Tubuh Kristus yang bersatu. Jika satu anggota tubuh bergerak, yang lain mendukung, bukan menghambat.
Jika satu pelayanan digerakkan oleh Roh Kudus, mari doakan dan dukung, bukan mencari kesalahan.
Mari kita ingat kembali bahwa pelayanan adalah kehormatan, bukan hak. Dan kehormatan itu bukan milik kita pribadi, melainkan milik Kristus, Sang Pemilik Gereja.
“Sebab dari Dialah, dan oleh Dialah, dan kepada Dialah segala sesuatu. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.”
— Roma 11:36
Jika hari ini kita dihadapkan pada dua pelayanan yang terjadi bersamaan, jangan tergesa menilai.
Mungkin justru Tuhan sedang menyatakan bahwa tuaian sedang besar, dan Ia sedang mencari pekerja-pekerja yang setia, bukan yang saling berselisih.
Mari jadi bagian dari solusi, bukan sumber perpecahan. Mari menjadi pelayan sejati yang hatinya penuh kasih, bukan penuh ambisi.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K










