Tangis di Atas Roda Budaya

- Penulis

Selasa, 10 Juni 2025 - 20:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Cerpen oleh Amatus Rahakbauw K.

Teluk Bintuni, 10 Juni 2025 – Di bawah langit biru dan semilir angin laut dari Tanah Papua, sebuah kisah mengalir bersama deru mesin truk-truk hias. Hari itu, bukan sekadar perayaan Hari Ulang Tahun ke-22 Kabupaten Teluk Bintuni—hari itu adalah panggung air mata, harapan, dan kebanggaan yang tak bisa dibungkam oleh waktu.

Di pinggir jalan berdebu, seorang anak kecil bernama Neremi, berumur 10 tahun, berdiri memegang erat tangan neneknya. Matanya berbinar saat melihat truk budaya melintas satu per satu, dihiasi rumah-rumah adat yang selama ini hanya ia dengar dalam dongeng sebelum tidur.

“Nenek, itu rumah adat kita ya?” bisiknya lirih, menunjuk pada miniatur rumah suku Moskona.

Baca Juga  Ketua Komisi 1 DPRD Batu Bara Ngopi Di Warkop Kantor Tempotimur

Neneknya mengangguk, menahan haru. “Itu, rumah dari darah kita, dari tanah di mana moyangmu pernah menanam sagu dan menyanyikan lagu-lagu tua tentang hujan dan hutan.”

Di atas truk, pemuda-pemudi menari, menyanyikan lagu-lagu warisan tujuh suku: Sebyar, Wamesa, Kuri, Irarutu, Moskona, Sough, dan Sumuri. Mereka bukan hanya menari. Mereka berteriak dalam diam: “Kami masih ada! Budaya kami hidup!”

Air mata Neremi jatuh perlahan. Bukan karena sedih, tapi karena ia baru tahu siapa dirinya, dan betapa berharganya darah dan tanah yang diwariskan padanya.

Di tengah keramaian, seorang guru berdiri memandangi truk-truk yang lewat sambil menulis di bukunya: “Anak-anak Papua tidak boleh kehilangan jati diri di tengah dunia yang terus berubah. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Hari ini, budaya telah berbicara. Besok, anak-anak kita harus menjadi suaranya.”

Baca Juga  Jacob Ereste : Kabinet Merah Putih Yang Gemuk Patut Diharap Mewujudkan Swasembada Pangan dan Mengentas Kemiskinan Serta Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Festival itu bukan sekadar hiasan di atas roda. Itu adalah doa berjalan, pesan diam dari leluhur, teriakan sunyi dari masa depan yang meminta didengarkan.

Dan di tengah dentuman musik dan sorak sorai warga, suara paling jernih terdengar dari hati yang mencintai:

“Jangan biarkan budaya kita hanya hidup dalam festival. Biarkan ia hidup dalam hati, dalam sikap, dalam mimpi kita yang tinggi.”

Malam itu, ketika kota kembali sepi, Neremi menatap langit lalu menulis dalam buku kecilnya:

“Aku anak Papua. Aku akan belajar. Suatu hari nanti, aku akan berdiri di atas panggung dunia, membawa cerita tentang tujuh suku dari Teluk Bintuni. Dan dunia akan tahu bahwa kami bukan hanya kaya – kami adalah warisan yang hidup.”

Baca Juga  Nilai di Balik Uang Seribu dan Lima Ratus Ribu

Pesan Cerita:

Cerpen ini bukan sekadar narasi festival, tapi cermin jiwa Papua: bahwa budaya bukan tontonan, melainkan napas yang diwariskan untuk dijaga. Untuk semua anak Bumi Cenderawasih—bangkitlah, belajarlah, dan bawa budayamu tinggi setinggi langit yang melindungimu.

 

Penulis : Amatus.Rahakbauw.K

Berita Terkait

Etika di Atas Senioritas
Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan
Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku
Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif
Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya
Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa
Agus Flores Nobar FIFA 2026 Bersama Kapolda Jabar dan Jajaran Dukung Program Kapolri
Jurnalis dan Nurani Kebenaran: Saat Pena Menjadi Cahaya Peradaban

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Etika di Atas Senioritas

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:35 WIB

Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:13 WIB

Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page