Cerpen Motivasi dan Teguran Rohani – 4 Juni 2025
Hari ini aku pergi ke salon. Duduk manis di kursi empuk ber-AC, dengan rambut ditarik, diluruskan, dipoles. Biayanya? Rp500.000. Dan aku bayar tanpa tanya, tanpa tawar.
Karena buatku, penampilan penting. Cantik itu percaya diri. Dan kalau harus mahal? Tak apa, yang penting puas.
Tapi sore harinya, saat aku duduk di gereja, tiba saatnya memberi. Kantong derma lewat. Aku buka dompet—ada lembaran lima puluh ribu, ada sepuluh ribuan… tapi yang kuambil? Dua ribu.
Ya, dua ribu rupiah. Seolah-olah Tuhan cukup diberi recehan sisa dari gengsiku.
Saat itu juga hatiku tertusuk. Ada suara dalam batinku berkata:
“Kamu rela bayar ratusan ribu hanya untuk rambut yang akan rontok juga… tapi untuk pekerjaan Tuhan? Kamu hitung-hitungan.”
Aku terdiam. Malu. Hancur.
Selama ini aku lebih takut kelihatan jelek di mata manusia, daripada tampak kikir di hadapan Tuhan.
Aku habiskan uang untuk hal yang fana, tapi pelit pada hal yang kekal. Aku merawat tubuh, tapi menelantarkan iman.
Bukan soal jumlah, tapi soal sikap hati.Bukan soal besar kecilnya uang, tapi besar kecilnya kasih dan hormat kita pada Tuhan.
Kalau hati ini bisa royal untuk dunia, kenapa jadi miskin saat memberi kepada Sang Pencipta?
Hari ini, aku ditegur. Keras. Tapi aku bersyukur.Tuhan menegur bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk mengangkatku naik level.
Iman bukan soal hadir di bangku gereja, tapi soal seberapa besar kita menaruh Tuhan di atas semua—di atas gengsi, di atas uang, di atas kepuasan diri.
Mulai hari ini, aku mau berubah.
Bukan sekadar merawat tampilan luar, tapi membangun hati yang murah hati dan takut Tuhan.
Karena yang sejati bukan penampilan luar, tapi isi hati yang dipersembahkan dengan tulus untuk kemuliaan-Nya.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K




















