Sorong — Gembala Jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Alfa & Omega, Pdt. Aleksander Y. O. Maniani, S.Th, menyampaikan sikap tegas menolak aktivitas penambangan nikel di wilayah Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Pernyataan ini ia sampaikan dalam wawancara melalui pesan WhatsApp dengan jurnalis TempoTimur.com pada Sabtu pagi (7/6/2025) pukul 08.12 WIT.
Menurutnya, penghentian sementara kegiatan tambang tidaklah cukup, melainkan harus dilakukan penutupan total dan permanen.
“Raja Ampat adalah surga kecil yang jatuh ke bumi. Ini adalah titipan Tuhan bagi kami orang Papua. Kawasan ini harus dilestarikan dan diselamatkan,” tegas Pdt. Maniani.
Ia menguraikan sejumlah alasan mengapa penambangan nikel harus dihentikan secara menyeluruh:
1. Raja Ampat merupakan kawasan UNESCO Global Geopark, yang wajib dijaga kelestarian dan keasliannya.
2. Penambangan merusak lingkungan dan secara langsung mengancam keberlangsungan ekowisata yang menjadi sumber utama penghasilan masyarakat lokal.
3. Warga setempat sangat bergantung pada hasil laut dan alam untuk kelangsungan hidup sehari-hari.
4. Nilai budaya dan spiritual orang Papua terganggu, karena bagi mereka, “pulau adalah ibu dan laut adalah bapa. Jika keduanya rusak, maka kami anak-anaknya pun akan punah,” ungkapnya.
Sebagai tokoh agama dan pemimpin masyarakat, Pdt. Maniani menyerukan agar semua pihak — termasuk pemerintah dan perusahaan — bertanggung jawab atas kelestarian Raja Ampat. Menurutnya, ini bukan hanya isu ekonomi, tetapi juga tanggung jawab moral dan spiritual terhadap ciptaan Tuhan.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K






















