Ketika Alam Mulai Menagih

- Penulis

Jumat, 25 September 2026 - 11:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : ilustrasi penulis

 

 

OPINI — Ada masa ketika manusia mulai bertanya lirih pada dirinya sendiri: mengapa air semakin sulit didapat, hutan mudah terbakar, tanah kehilangan kesuburan, dan panen tak lagi memberi harapan? Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak pernah sederhana.

Di satu sisi, perubahan iklim memang nyata. Kemarau yang memanjang mengeringkan sumber air, hujan yang tak menentu mengacaukan pola tanam, dan lahan yang kering membuat api lebih cepat melahap hutan.

 

Namun ada pertanyaan lain yang lebih jujur dan lebih berat untuk dijawab: sejauh mana manusia ikut menciptakan persoalan itu? Kita terbiasa berkata alam sedang marah saat bencana datang, musim tidak bersahabat saat air sulit, dan prihatin saat hutan terbakar. Tapi jarang kita berhenti sejenak untuk bercermin, apa yang telah kita lakukan terhadap alam itu sendiri.

Baca Juga  Lebih Baik Mengasihi Diri Sendiri

 

Hutan ditebang tanpa memikirkan keberlanjutan, sungai dicemari sampah dan limbah, lahan dibuka tanpa perencanaan matang, dan air dipakai secara berlebihan. Lingkungan yang seharusnya menjadi ruang hidup bersama, perlahan hanya diperlakukan sebagai sumber keuntungan. Padahal alam tidak pernah melarang manusia memanfaatkan bumi.

Manusia butuh tanah untuk bertani, air untuk hidup, dan hutan untuk menopang kehidupan. Persoalannya bukan pada pemanfaatannya, melainkan pada cara kita menggunakannya.

 

Pembangunan yang mengabaikan keseimbangan pada akhirnya berbalik menjadi bumerang. Ketika hutan kehilangan pohonnya, daerah resapan air berkurang, dan sungai dipenuhi sampah, manusia juga yang menanggung akibatnya.

Air menjadi langka, petani dihadapkan pada ketidakpastian, hasil panen menurun, dan kebakaran hutan berulang. Karena itu sudah waktunya kita mengubah pertanyaan, bukan lagi “Mengapa alam marah?” tetapi “Apa yang telah manusia lakukan terhadap alam?”

Baca Juga  Agus Flores Disebut-sebut Pantas Masuk Kabinet Merah Putih

 

Di sini tanggung jawab tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Pemerintah memang wajib menjaga lingkungan lewat kebijakan dan pengawasan. Namun masyarakat juga memiliki peran yang sama besarnya.

Menjaga sungai dari sampah, tidak membakar hutan sembarangan, menanam kembali pohon, menghemat air, dan menggunakan sumber daya secara bijaksana adalah hal-hal kecil yang sering menjadi awal dari perubahan besar.

 

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, dan bukan untuk mengatakan semua bencana adalah salah manusia. Ini adalah ajakan untuk melihat persoalan secara lebih luas. Air yang mengalir hari ini, hutan yang berdiri sekarang, dan tanah yang kita olah bukan hanya milik generasi kita, melainkan titipan untuk anak cucu. Menjaga alam tidak boleh berhenti sebagai slogan, ia harus menjadi kesadaran.

Baca Juga  Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 

Mungkin alam tidak sedang marah, ia hanya sedang menunjukkan akibat dari terlalu lama diperlakukan tanpa keseimbangan, dan manusia perlu belajar mendengar sebelum semuanya terlambat.

Penulis : Amartus Rahakbauw K

Berita Terkait

Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran
Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami
Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan
Jaga Marwah dan Identitas Kabupaten Batu Bara Serukan Pelestarian Budaya Melalui Peringatan Hari Bertanjak Sedunia 2026
MBG Tanjung Tiram dipertanyakan: 67 Instansi, baru 23 Terlayani 44 Masih Menunggu
Prabowo Terapkan “Politik Othello”: Rangkul Lawan Jadi Sekutu
Jurnalis Diminta Utamakan Integritas dan Solidaritas, Bukan Saling Menjatuhkan
Etika di Atas Senioritas

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 11:33 WIB

Ketika Alam Mulai Menagih

Rabu, 23 September 2026 - 09:42 WIB

Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran

Sabtu, 19 September 2026 - 10:11 WIB

Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami

Rabu, 16 September 2026 - 14:00 WIB

Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan

Rabu, 16 September 2026 - 13:04 WIB

Jaga Marwah dan Identitas Kabupaten Batu Bara Serukan Pelestarian Budaya Melalui Peringatan Hari Bertanjak Sedunia 2026

Berita Terbaru

Opini

Ketika Alam Mulai Menagih

Jumat, 25 Sep 2026 - 11:33 WIB

You cannot copy content of this page