
BATU BARA — Kondisi bangunan Kubah Datuk Batu Bara yang berada di Desa Kuala Gunung, Kecamatan Datuk Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, kini mulai memprihatinkan. Bangunan yang selama ini menjadi tempat beristirahat sekaligus salah satu fasilitas bagi para peziarah makam leluhur tersebut terlihat mulai mengalami kerusakan dan kurang terawat.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengancam keberadaan salah satu situs yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Batu Bara. Jika tidak mendapat perhatian dan upaya pelestarian, keberadaan peninggalan sejarah yang berkaitan dengan para tokoh dan keturunan Kedatukan Batu Bara itu dikhawatirkan semakin terabaikan.
Kubah Datuk Batu Bara diketahui masih kerap dikunjungi masyarakat dan para peziarah. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi fisik bangunan maupun sejumlah fasilitas pendukung di kawasan tersebut disebut tidak lagi terpelihara sebagaimana sebelumnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dalam beberapa tahun terakhir sejumlah fasilitas di kawasan Kubah Datuk Batu Bara, termasuk penerangan dan sarana air untuk kebutuhan para peziarah, pernah mendapat perhatian dan dukungan dari salah seorang keturunan Kedatukan Batu Bara yang berdomisili di Malaysia.
Sosok yang sempat memberi perhatian terhadap bangunan kubah maupun makam disebut bernama YM Dato’ Paduka Sri Mohd Zaki, konon katanya sebagai waris atau keturunan kelima dari Raja Akas yang saat ini berdomisili di Lot 6872, Jalan Taiping, Kampong Panchor, 34900 Pantai Remis, Semenanjung Perak, Malaysia.
Mohd Zaki mengaku prihatin setelah mengetahui kondisi bangunan Kubah Datuk Batu Bara yang sebelumnya sempat mendapat perhatian dan perawatan kini mulai mengalami kerusakan.
Menurutnya, upaya menjaga situs bersejarah tidak semestinya hanya dibebankan kepada individu maupun keluarga keturunan Kedatukan. Pemerintah daerah, pemangku adat dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan peninggalan sejarah tersebut.
“Setelah mendapat kabar bahwa bangunan yang sempat saya rawat dan menjadi perhatian saya kini mulai rusak dan tidak terurus, tentu saya sangat prihatin,” ujar Mohd Zaki.
Ia berharap pemangku adat bersama pemerintah daerah dan masyarakat dapat membangun kepedulian secara bersama-sama terhadap keberadaan Kubah Datuk Batu Bara.

Menurut dia, bangunan tersebut bukan hanya menjadi tempat yang dikunjungi para peziarah, tetapi juga merupakan bagian dari peninggalan sejarah yang memiliki nilai budaya dan sejarah bagi masyarakat Kabupaten Batu Bara.
“Pemangku adat dan masyarakat harus bersatu bersama-sama menjaga kelestarian peninggalan sejarah yang menjadi monumen dan situs sejarah,” katanya.
Mohd Zaki juga menyampaikan bahwa dirinya masih memiliki keinginan untuk membantu merawat kawasan tersebut. Namun, keterbatasan kemampuan membuat upaya perawatan secara mandiri tidak dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“Untuk merawat tentu masih ada keinginan, tetapi kemampuan saya terbatas. Tinggal bagaimana kita bersama-sama menjaganya agar peninggalan sejarah ini tidak hilang,” pungkasnya.
Kondisi Kubah Datuk Batu Bara tersebut diharapkan menjadi perhatian pemerintah daerah, pemangku adat dan pihak terkait lainnya. Perhatian bersama dinilai penting agar langkah pelestarian dapat segera dilakukan sebelum kerusakan bangunan semakin parah dan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya terancam hilang.
Melalui pesan kepada awak media ini, ia menyampaikan bahwa dirinya akan datang ke Kabupaten Batu Bara dalam waktu dekat ini untuk berziarah sekaligus meninjau kondisi bangunan.
(Bara/Tim)












