Betawi dan Melayu, Serumpun Budaya dari Palang Pintu hingga Nasi Uduk

- Penulis

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

JAKARTA – Budaya Betawi yang berkembang di Jakarta memiliki akar yang kuat dengan budaya Melayu. Sejumlah tradisi seperti palang pintu, pantun, dan silat menjadi bukti kedekatan kedua rumpun masyarakat ini. Bahkan dari segi kuliner pun terdapat persamaan yang mencolok.

 

 

Palang pintu merupakan tradisi khas Betawi yang menggabungkan seni silat, pantun berbalas, dan dialog. Tradisi ini memiliki kemiripan dengan adat Melayu dalam upacara pernikahan, di mana pantun juga digunakan sebagai sarana komunikasi dan penyampaian nasihat. Begitu pula dengan seni silat, Betawi memiliki aliran seperti Beksi dan Cingkrik, sementara Melayu memiliki Silat Tua dan Silat Harimau yang sama-sama berasal dari akar pencak silat Nusantara.

Baca Juga  Sambut Kegembiraan HUT RI Ke 78 Walikota Tanjungbalai Lepas Peserta Pawai Obor

 

 

Dari sisi kuliner, nasi uduk khas Betawi dan nasi lemak khas Melayu memiliki bahan dasar yang sama yaitu beras yang dimasak dengan santan. Perbedaan utama terletak pada lauk pauk dan sambal pendampingnya. Persamaan ini menunjukkan adanya pertukaran budaya dan selera masyarakat pesisir di Nusantara.

 

 

Sejarawan budaya menyebut masyarakat Betawi terbentuk dari percampuran berbagai suku, dengan unsur Melayu sebagai salah satu unsur dominan. Hal ini terjadi karena Jakarta atau Batavia dahulu menjadi pusat perdagangan dan tempat merantaunya berbagai suku, termasuk Melayu dari Sumatra, Riau, dan Kepulauan. Karena itulah Betawi sering disebut sebagai “Melayu yang ada di perantauan” dengan adaptasi sesuai letak geografis di Pulau Jawa.

Baca Juga  Pernikahan Putri Bupati Batu Bara Erat dengan Adat Budaya di Zaman Modernisasi

 

 

Kedekatan budaya ini menegaskan bahwa Betawi dan Melayu merupakan bagian dari rumpun Melayu Nusantara. Meskipun dipisahkan oleh pulau dan memiliki penamaan berbeda, keduanya menjunjung nilai yang sama: menjaga adat, menguatkan silaturahmi, dan melestarikan warisan leluhur. “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” menjadi falsafah yang hidup di kedua komunitas tersebut.

 

 

REFERENSI:

 

1. Lance Castaneda. The Arts of Betawi: Palang Pintu and Silat. Journal of Southeast Asian Performing Arts, 2019.

 

2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Kuliner Betawi dan Melayu, 2021.

 

3. Alwi Shahab. Betawi: Masyarakat dan Kebudayaannya. Jakarta: Masup Jakarta, 2018.

Baca Juga  Pemkab Batu Bara Raih Juara II Paviliun Terbaik pada PRSU ke-50

Penulis : R Ramadhan

Berita Terkait

Polinef Gelar PKKMB 3 Hari, Gantikan Ospek dengan Kuliah Umum dan Pengenalan Kampus
Warga Cirendeu dan Rempoa Meriahkan Karnaval HUT RI ke-81
Pemkab Batu Bara Raih Juara II Paviliun Terbaik pada PRSU ke-50
Ribuan Penonton Padati Malam Pesona Budaya Batu Bara, Bupati dan Wakil Beri Apresiasi Jempol
Dewan Juri Apresiasi Penampilan Peserta Festival Band Rohani pada Youth Camp GPdI Papua Barat di Bintuni
Secangkir Kopi, Seribu Sejarah: Sembang-Sembang Tanah Deli Hidupkan Kembali Marwah Melayu
LPTQ Batu Bara Tegaskan Kafilah Ikuti Seluruh Cabang MTQ ke – 40 Tingkat Provsu
Sembilan Menjadi Satu: Marwah Melayu Batu Bara Ditegakkan di Bibir Pantai Timur Sumatera

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:19 WIB

Betawi dan Melayu, Serumpun Budaya dari Palang Pintu hingga Nasi Uduk

Selasa, 25 Agustus 2026 - 15:40 WIB

Polinef Gelar PKKMB 3 Hari, Gantikan Ospek dengan Kuliah Umum dan Pengenalan Kampus

Minggu, 23 Agustus 2026 - 23:46 WIB

Warga Cirendeu dan Rempoa Meriahkan Karnaval HUT RI ke-81

Senin, 3 Agustus 2026 - 09:28 WIB

Pemkab Batu Bara Raih Juara II Paviliun Terbaik pada PRSU ke-50

Rabu, 22 Juli 2026 - 18:08 WIB

Ribuan Penonton Padati Malam Pesona Budaya Batu Bara, Bupati dan Wakil Beri Apresiasi Jempol

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page