Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran

- Penulis

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Penulis Amatus.Rahakbauw K

Jurnalisme lahir untuk melayani kepentingan publik, bukan untuk memuaskan ego pribadi. Seorang jurnalis dipercaya masyarakat untuk mencari, mengolah, dan menyampaikan fakta secara objektif.

Namun, ketika kesombongan mulai menguasai hati seorang jurnalis, fungsi mulia itu perlahan berubah menjadi alat pembenaran diri dan pencarian popularitas.

Kesombongan dalam dunia jurnalistik sering muncul dalam berbagai bentuk.

Ada jurnalis yang merasa dirinya paling tahu, sehingga menolak kritik dan masukan. Ada pula yang menganggap pendapat pribadinya lebih penting daripada fakta yang ditemukan di lapangan.

Bahkan, tidak sedikit yang menggunakan profesinya untuk mencari pengaruh, membangun citra diri, atau menjatuhkan pihak tertentu demi kepentingan pribadi.

Ketika ego menjadi kompas utama, kebenaran menjadi korban pertama. Fakta dipilih sesuai selera, narasumber yang berbeda pandangan diabaikan, dan berita disusun bukan untuk menjelaskan kenyataan, melainkan untuk membenarkan opini yang telah dibangun sebelumnya. Pada titik inilah jurnalisme kehilangan ruhnya.

Jurnalis yang rendah hati akan selalu menyadari bahwa dirinya bukan pemilik kebenaran. Ia hanyalah pencari dan penyampai fakta. Kerendahan hati membuat seorang jurnalis mau mendengar semua pihak, memverifikasi informasi dengan cermat, serta mengakui kesalahan jika terjadi kekeliruan. Sebaliknya, kesombongan membuat seseorang merasa tidak pernah salah dan tidak perlu melakukan koreksi.

Masyarakat saat ini semakin cerdas dalam menilai informasi. Di era digital, berita dapat diperiksa, dibandingkan, dan dikritisi oleh siapa saja. Karena itu, jurnalis yang mengedepankan ego pada akhirnya akan kehilangan kepercayaan publik.

Mungkin ia memperoleh perhatian sesaat, tetapi kredibilitas yang rusak sulit dipulihkan.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak media dan jurnalis besar dihormati bukan karena kesempurnaan mereka, melainkan karena komitmen mereka terhadap kebenaran dan keberanian untuk mengoreksi kesalahan. Integritas selalu lebih berharga daripada popularitas.

Pada akhirnya, tantangan terbesar seorang jurnalis bukanlah menghadapi tekanan dari luar, melainkan mengalahkan kesombongan dalam dirinya sendiri. Sebab ketika ego menguasai pena, kebenaran akan terluka.

Namun ketika kerendahan hati memimpin, jurnalisme akan tetap menjadi cahaya yang menerangi masyarakat dengan fakta dan kejujuran.

“Kesombongan membuat seseorang merasa dirinya sumber kebenaran, sedangkan kerendahan hati menyadarkan bahwa kebenaran harus terus dicari.”

Berita Terkait

Etika di Atas Senioritas
Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan
Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku
Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif
Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya
Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa
Agus Flores Nobar FIFA 2026 Bersama Kapolda Jabar dan Jajaran Dukung Program Kapolri
Jurnalis dan Nurani Kebenaran: Saat Pena Menjadi Cahaya Peradaban

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Etika di Atas Senioritas

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:35 WIB

Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:13 WIB

Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page