Gemuk Struktur, Miskin Fungsi

- Penulis

Sabtu, 7 Februari 2026 - 09:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Cerita :
Penulis Amatus.Rahakbauw. K

Di kota itu, gedung-gedung tumbuh lebih cepat daripada harapan.
Setiap tahun, papan nama baru dipasang. Setiap bulan, jabatan baru diumumkan.
Setiap hari, struktur diperluas—seolah masalah bisa selesai hanya dengan menambah kursi.

Orang-orang menyebutnya kemajuan.
Struktur pemerintahan kian gemuk.
Bagan organisasi dipenuhi kotak dan garis, menjulur ke mana-mana seperti akar yang tak terlihat ujungnya. Ada ketua, wakil, asisten, koordinator, subkoordinator, hingga staf yang tugasnya sering kali tak sempat mereka pahami sendiri.

Namun di kampung-kampung pinggiran kota, air bersih tetap harus ditimba.
Di sekolah-sekolah kecil, guru mengajar dengan papan tulis yang sama sejak bertahun-tahun lalu.
Di rumah-rumah sempit, orang tua belajar menurunkan harapan agar tidak terlalu sering kecewa.

Struktur bertambah, fungsi tertinggal.
Pak Darma bekerja di salah satu kantor yang paling sibuk di kota itu. Setidaknya, begitulah kesan dari luar. Gedungnya ramai, rapatnya padat, undangannya tak pernah habis. Setiap hari ia mengenakan seragam rapi, duduk di ruang ber-AC, dan berbicara tentang program.

Baca Juga  Malam Suntuk , Kapolres dan Wakapolres Tulung Agung , Terima Kunjungan Agus Flores

Namun semakin lama, ia semakin sering bertanya dalam hati:program yang mana, dan untuk siapa?

Setiap laporan terlihat indah. Angka-angka naik, target tercapai, realisasi mendekati seratus persen. Tetapi saat ia pulang ke rumah ibunya di desa, jalanan masih berlubang, puskesmas kekurangan obat, dan warga masih saling patungan jika ada yang sakit.

Ibunya pernah bertanya pelan,
“Kantor kamu besar sekali, Nak. Tapi kenapa hidup orang-orang masih terasa kecil?”Pak Darma tak langsung menjawab.
Pertanyaan itu terlalu sederhana untuk ditangkis dengan teori.

Di ruang rapat, orang-orang pandai berbicara.Mereka menyebut regulasi, kewenangan, mekanisme, dan prosedur. Semua terdengar masuk akal. Semua terdengar benar. Tetapi setiap kali ada masalah nyata—air macet, bantuan terlambat, pelayanan lambat—jawabannya hampir selalu sama:“Itu bukan fungsi kami.”
Struktur menjadi alasan.Fungsi menjadi beban.

Baca Juga  Pelangi Keikhlasan di Bulan Suci

Masyarakat perlahan belajar menyesuaikan diri. Mereka tidak lagi bertanya terlalu banyak. Mereka tahu ke mana harus mengadu, tapi juga tahu bahwa mengadu belum tentu berarti selesai. Harapan pun dikelola: jangan terlalu tinggi, agar jatuhnya tidak menyakitkan.

Ironisnya, di atas semua itu, struktur terus tumbuh.Unit baru dibentuk. Jabatan baru diisi. Anggaran baru disahkan. Semua demi “penguatan kelembagaan”.Padahal yang lemah bukanlah kelembagaan,melainkan keberanian untuk memastikan fungsi berjalan.

Pak Darma suatu hari berdiri di depan cermin kantornya. Di balik jas dan pin yang berkilau, ia melihat dirinya sendiri—bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai warga. Ia sadar, masalahnya bukan kekurangan aturan, melainkan kekurangan niat untuk melayani.

Baca Juga  Dewan Pertimbangan Bapera Pusat, Harapkan Helmisyam Damanik Maju Pilbup 2024

Struktur memang penting.
Tanpa struktur, segalanya kacau.
Namun struktur yang terlalu gemuk tanpa fungsi yang hidup,hanya akan membuat pelayanan lambat, keputusan berputar-putar,dan tanggung jawab saling berpindah tangan.

Masyarakat tidak membutuhkan bagan yang indah.Mereka membutuhkan jawaban.

Mereka tidak menuntut pidato panjang.
Mereka hanya ingin urusan selesai.
Pada akhirnya, orang tidak akan mengingat berapa banyak jabatan yang pernah ada.

Mereka akan mengingat satu hal sederhana:apakah hidup mereka menjadi lebih baik, atau tetap harus bertahan dengan cara lama.

Struktur boleh gemuk.Tapi fungsi harus bernyawa.Jika tidak, kekuasaan hanya akan sibuk mengurus dirinya sendiri,
sementara masyarakat belajar hidup tanpa berharap terlalu banyak.

Berita Terkait

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan
Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku
Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif
Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya
Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa
Agus Flores Nobar FIFA 2026 Bersama Kapolda Jabar dan Jajaran Dukung Program Kapolri
Jurnalis dan Nurani Kebenaran: Saat Pena Menjadi Cahaya Peradaban
Senja yang Pergi, Bulan yang Menemani

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:35 WIB

Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:13 WIB

Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:51 WIB

Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page