Dalam sebuah organisasi kepemudaan gereja, jabatan ketua bukanlah sekadar gelar, melainkan panggilan untuk melayani. Ada seorang ketua pemuda yang diangkat dengan penuh harapan, namun dalam perjalanan pengabdiannya, ia sering merasa berjalan sendiri.
Ia bukan tidak bekerja. Di balik layar, ia berusaha keras mencari dana agar kas pemuda tetap hidup, agar setiap kegiatan bisa berjalan tanpa membebani siapa pun. Tanggung jawabnya ia jalani dengan kesadaran, meski tidak selalu terlihat oleh mata banyak orang.
Memang, kehadirannya dalam ibadah pemuda tidak selalu lengkap. Profesi sebagai seorang jurnalis menuntut waktu, tenaga, dan komitmen yang tidak sedikit. Namun ketidakhadiran itu bukan karena ketidakpedulian, melainkan karena pergulatan antara tugas pekerjaan dan panggilan pelayanan.
Dalam keterbatasan itu, ia tetap berupaya memberi yang terbaik, memastikan roda kepemudaan tetap berputar.
Sayangnya, usaha yang dilakukan dalam diam sering kali kalah oleh penilaian yang lahir dari ketidaktahuan. Ia lebih sering disalahkan daripada dipahami. Dedikasi di balik layar jarang dihargai, sementara kekurangan kecil diperbesar menjadi kesalahan.
Di sinilah makna organisasi seharusnya diuji: bukan untuk menjatuhkan sesama dengan cerita yang dibangun di belakang layar, apalagi dengan cara yang tidak wajar, tetapi untuk saling menguatkan, saling menegur dengan kasih, dan belajar melihat pelayanan dari berbagai sudut pandang.
Organisasi bukan tentang siapa yang paling sering terlihat, melainkan tentang siapa yang setia bekerja, meski tanpa tepuk tangan. Dan kepemimpinan sejati bukanlah soal pujian, tetapi ketulusan untuk tetap melayani, bahkan ketika pengorbanan itu tidak dipahami.
Penulis : Amatus Rahakbauw




















