Bila Di Sana Telah Ada Pendampingku, Jadikan Aku Sahabatmu

- Penulis

Senin, 17 November 2025 - 20:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Angin senja turun perlahan di tepi kampung kecil itu. Langit memerah, seolah ikut menanggung rahasia yang sejak lama tak terucapkan. Di antara desir pepohonan, seorang perempuan berdiri mematung di bawah cahaya temaram. Dialah Serafina—nama yang pernah mengisi seluruh ruang hidupku, nama yang kini hanya kupeluk dalam doa.

Aku datang kembali setelah bertahun-tahun pergi. Bukan untuk mencari apa pun, bukan juga untuk merenggut kembali apa yang dulu hilang. Aku datang hanya sebagai seseorang yang ingin menuntaskan satu bab dari kisah yang tak sempat ditutup.

Ketika langkahku mendekat, Serafina menoleh pelan. Ada sejenak keheningan yang membuat waktu serasa membatu. Kami berdiri saling memandang—dua jiwa yang pernah saling mencintai, namun tak lagi punya alasan untuk menggenggam masa lalu.

“Bagaimana kabarmu, Fina?” tanyaku lirih.

Wajahnya menegang sejenak sebelum ia tersenyum, meski senyumnya tampak bergetar.

“Aku baik… dunia mempertemukanku dengan seseorang yang menerimaku sepenuhnya.”

Baca Juga  Pembangunan yang Melupakan Akar

Aku menelan udara yang tiba-tiba terasa begitu berat. Aku tahu kalimat itu akan datang, dan meski aku sudah menyiapkan hati, tetap saja rasanya seperti pisau yang digesek perlahan.

Namun aku tersenyum. Senyum yang kubentuk bukan untuk menutupi luka, tetapi sebagai tanda bahwa aku telah belajar merelakan.

“Kalau begitu…” suaraku tercekat, tapi aku lanjutkan, “…jadikan aku sahabatmu.”

Serafina mengerjap. “Kau… tidak marah?”

Aku menggeleng pelan.
“Cinta yang pernah kita punya tidak pernah salah, Fina. Jangan pernah menyalahkan siapa pun—bahkan tidak diri kita sendiri. Kita hanya melewati jalan yang berbeda.”

Angin malam merembes masuk di antara kata-kataku. Di matanya, aku melihat sesuatu yang bergetar—mungkin sesal, mungkin haru, mungkin juga kenangan yang tiba-tiba menuntut ruang.

“Aku takut… bila kita bertemu di masa depan, kita saling membenci,” bisiknya.

Aku mendekat satu langkah, cukup untuk membuat suara hatiku terdengar jelas.

Baca Juga  Di Ladang Sang Tuan

“Jangan pernah begitu, Fina. Jika suatu saat kita berjumpa lagi, jangan ada permusuhan. Jangan ada kata yang menusuk. Biarkan kenangan kita tetap menjadi kenangan, bukan luka yang terus berdarah.”

Ia menggigit bibirnya, menahan getaran emosional yang mulai menyeruak.
“Bagaimana bila hatimu tercekat melihatku bersama dia…?”

Aku menatap jauh melewati pundaknya, ke arah senja yang tinggal setipis garis.
“Hati yang pernah mencintaimu tidak akan takut. Ia hanya akan berdoa kau bahagia.”

Tiba-tiba matanya basah. Satu bulir air mata jatuh, mengalir seperti sungai kecil yang akhirnya menemukan jalannya setelah bertahun-tahun terkurung.

“Aku… berterima kasih padamu,” ucapnya serak. “Mungkin tanpa kau sadari, kaulah bagian dari perjalanan hidupku yang paling jujur.”

Aku tersenyum—tersenyum yang akhirnya terasa tulus, tanpa beban.
“Dan kau adalah bagian dari diriku yang membuatku mengerti bahwa mencintai tidak selalu harus memiliki.”

Baca Juga  Cermin Dosa di Hadapan Salib

Langit benar-benar gelap ketika kami berdiri dalam diam, membiarkan perpisahan menyapu pelan seperti ombak kecil di pantai.

Di bawah cahaya remang, kami saling menatap untuk terakhir kali sebagai dua insan yang pernah saling mencintai. Setelah ini, kami akan berjalan sebagai dua sahabat yang tidak saling menyakiti, tidak saling membenci, dan tidak saling menyalahkan.

Karena cinta sejati, sesederhana apa pun bentuknya, tidak pernah salah.
Yang salah hanya ketika kita memaksa takdir untuk mengikuti keinginan kita.

Aku melangkah pergi tanpa menoleh, namun di dadaku aku tahu: cinta yang direstui oleh keikhlasan tidak pernah mati. Ia hanya berubah wujud menjadi doa yang paling lembut.

Dan dalam doa itu, Serafina tetap ada—bukan sebagai milikku, tetapi sebagai bagian dari kisah yang akan selalu kuceritakan dengan senyum dan tanpa air mata yang pahit.

Penulis : Amatus Rahakbauw

Berita Terkait

Teduhnya Penantian di Bawah Langit Malam
Di Bawah Langit Kasuari: Perjalanan Sunyi Seorang Anak Papua
Bikin Kaget Gorontalo, Istri Ketum FRN Mendadak Jadi Kepsek
Jangan Salah Menilai: Pengenalan Dunia Jurnalis yang Sering Disalahpahami
Agus Flores Kembali Dapat Wejangan Dari Presiden ke-7 RI
Untung Ada Presiden Hebat, Mengetahui Kenapa Kapolri Kurus, Karena ini
Dalam Harmoni Alam, Lahir Kedewasaan Manusia
Pasar Remu Punya Cerita: Bersama “Bakit Air Surga”

Berita Terkait

Sabtu, 16 Mei 2026 - 10:17 WIB

Teduhnya Penantian di Bawah Langit Malam

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:26 WIB

Di Bawah Langit Kasuari: Perjalanan Sunyi Seorang Anak Papua

Sabtu, 9 Mei 2026 - 15:02 WIB

Bikin Kaget Gorontalo, Istri Ketum FRN Mendadak Jadi Kepsek

Kamis, 7 Mei 2026 - 17:29 WIB

Jangan Salah Menilai: Pengenalan Dunia Jurnalis yang Sering Disalahpahami

Minggu, 3 Mei 2026 - 19:59 WIB

Agus Flores Kembali Dapat Wejangan Dari Presiden ke-7 RI

Berita Terbaru

Opini

Teduhnya Penantian di Bawah Langit Malam

Sabtu, 16 Mei 2026 - 10:17 WIB

You cannot copy content of this page