Di sebuah kota kecil di tepi laut, tinggal seorang hakim bernama Elyas. Ia dikenal sebagai sosok yang tegas, lurus, dan tak segan-segan menegur orang yang bersalah. Setiap kali ada persidangan, Elyas selalu mengutip hukum dengan suara lantang, seakan-akan dirinya adalah teladan kesempurnaan.
“Manusia berdosa harus dihukum setimpal!” katanya suatu pagi dalam sidang, sambil mengetukkan palu.
Orang-orang menghormatinya, namun di balik wibawa itu, Elyas mulai merasa dirinya lebih suci daripada orang lain. Ia rajin membaca firman, tetapi firman itu hanya ia gunakan untuk menunjuk kesalahan sesamanya.
Suatu sore, badai mengguncang kota itu. Berkas-berkas penting di kantor Elyas hilang, dan ia dituduh lalai. Dalam panik, ia berusaha menutupi kesalahannya dengan memalsukan tanda tangan seorang staf. Tak lama kemudian, kecurangan itu terbongkar.
Nama baik yang dibangunnya selama bertahun-tahun runtuh seketika. Elyas diadili di ruang sidang yang biasanya ia pimpin sendiri. Kini ia duduk sebagai terdakwa. Orang-orang berbisik, “Hakim yang dulu rajin menghakimi orang lain, ternyata juga berdosa.”
Hatinya hancur. Untuk pertama kalinya, Elyas menyadari betapa rapuh dirinya.
Malam itu, di kamar sunyi, ia membuka Alkitab yang sudah lama berdebu. Matanya jatuh pada Yohanes 8:7:
“Siapakah di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Air matanya jatuh. Ayat itu seperti pedang menembus hatinya. Elyas teringat betapa sering ia melempar “batu penghakiman” kepada orang lain, seolah-olah dirinya tanpa cela. Kini, ia justru tergeletak di tanah, disingkapkan aibnya di hadapan banyak orang.
Di dalam doa, ia berlutut:
“Ya Tuhan, ampunilah aku. Aku bukan hakim yang benar. Aku hanyalah manusia berdosa yang membutuhkan kasih karunia-Mu.”
Hari-hari berikutnya, Elyas tidak lagi hidup dengan kesombongan. Ia tetap menjadi hakim, tetapi dengan hati yang penuh belas kasih. Dalam setiap persidangan, ia tidak lagi cepat menghakimi, melainkan berusaha melihat manusia di hadapannya dengan kacamata kasih Kristus.
“Dulu aku berpikir diriku benar,” katanya pada jemaat dalam sebuah pertemuan doa. “Namun kini aku tahu, di hadapan salib Kristus, kita semua sama: pendosa yang ditebus oleh darah-Nya.”
Cerita Elyas menjadi pengingat bahwa siapa pun kita—pendeta, hakim, pemimpin, atau rakyat kecil—tidak ada yang benar di hadapan Allah tanpa kasih karunia Kristus. Firman berkata:
“Sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Roma 3:23)
Dan hanya di dalam salib Kristuslah kita menemukan pengampunan dan kekuatan untuk tidak lagi hidup dalam kesombongan, melainkan dalam kerendahan hati.
Akhirnya, cermin dosa bukan untuk menuding orang lain, melainkan untuk melihat diri kita di hadapan salib.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K



















