Penantian yang Sungguh: Siapkah Aku Menyambut Yesus?

- Penulis

Jumat, 30 Mei 2025 - 20:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Sepuluh hari menjelang hari besar. Di banyak gereja, terdengar lagu-lagu pujian: “Datanglah, Tuhan Yesus.” Namun pertanyaannya: benarkah kita menantikan kedatangan-Nya, atau kita hanya hadir agar terlihat aktif dan rohani?

Namamu mungkin tercatat sebagai panitia. Mungkin kamu memimpin pujian dengan suara yang lantang, tangan terangkat tinggi dalam penyembahan. Tapi bagaimana dengan hatimu? Apakah Tuhan masih punya ruang di sana?

Penantian bukan soal aktivitas semata. Bukan tentang kamu berdiri di depan atau duduk di belakang. Penantian adalah soal hati. Dan kenyataannya, tidak sedikit di antara kita yang, walau mulut memuji, hatinya jauh dari Kristus.

Ada yang merasa diri hebat karena bisa berkhotbah atau bernubuat. Tapi kita lupa: bahkan Iblis pun tahu Firman, bahkan bisa menyamar seperti malaikat terang.

Baca Juga  Kegiatan Outbound: Meningkatkan Kinerja dan Hubungan Antar Karyawan

Dina—seorang wanita sederhana yang tak dikenal siapa-siapa—mengerti arti penantian lebih dalam daripada banyak dari kita. Ia tak tampil di mimbar, tapi setiap pagi ia berlutut dan menangis. Bukan karena dosa besar, tapi karena rasa haus akan Tuhan. Ia rindu siap saat Yesus datang.

Sementara banyak dari kita masih sibuk mengejar pengakuan. Masih terjebak membandingkan diri, bahkan menyalahgunakan ayat untuk menghakimi, bukan untuk menyembuhkan.

Yesus tidak mencari orang hebat. Ia mencari hati yang hancur—yang mau dibentuk ulang.

Hari kesepuluh tiba. Suasana penuh sukacita. Tapi siapa yang benar-benar berjumpa Tuhan?

Bukan yang paling keras bersorak.

Bukan yang paling rapi pakaiannya.

Tapi dia yang dengan tulus berkata, “Tuhan, aku ini pendosa. Jika Engkau datang hari ini, jangan biarkan aku tertinggal.”

Baca Juga  Ketika Tuhan Memanggil Kembali Hati Para Penatua dan Majelis

Penantian bukan soal hafal liturgi. Bukan soal tahu nubuat dari A sampai Z. Tapi soal kesiapan hati. Jika Yesus datang malam ini—sekarang juga—siapkah engkau?

Atau masih sibuk menghitung likes dan komentar dari unggahan pelayananmu?

Ini bukan penghakiman. Ini panggilan untuk bertobat. Waktu terlalu singkat untuk bermain peran.

Jangan tunggu musibah dulu baru cari Tuhan.

Jangan tunggu sakit dulu baru berseru.

Yesus tidak menanti yang sempurna. Ia menanti yang mau dibersihkan. Yang sadar dirinya lemah, tapi tetap datang kepada-Nya.

Hari ke-10 bisa jadi hari ini.

Pertanyaannya:

Apakah kamu sungguh siap… atau hanya pandai berpura-pura?

Penulis : Amatus Rahakbauw K

Berita Terkait

Jurnalis Diminta Utamakan Integritas dan Solidaritas, Bukan Saling Menjatuhkan
Etika di Atas Senioritas
Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan
Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku
Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif
Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya
Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa
Agus Flores Nobar FIFA 2026 Bersama Kapolda Jabar dan Jajaran Dukung Program Kapolri

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 00:24 WIB

Jurnalis Diminta Utamakan Integritas dan Solidaritas, Bukan Saling Menjatuhkan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Etika di Atas Senioritas

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:35 WIB

Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page