
BATU BARA — Karisma Event Nusantara (KEN) Gebyar Batu Bara Bertanjak Jilid VII Tahun 2026 di kawasan Istana Niat Lima Laras, Kecamatan Nibung Hangus, Kabupaten Batu Bara, resmi ditutup, Jum’at (16/10/2026), sore.
Penutupan berlangsung khidmat dan meriah, dihadiri perwakilan pemerintah pusat, jajaran pemerintah daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Polsek Talawi Polres Batu Bara, tokoh adat, serta masyarakat. Rangkaian acara ditandai dengan koreografi silat tradisional, parade tanjak, doa bersama, hingga pengumuman pemenang lomba dan penyerahan hadiah.
Ketua Panitia, Darmawan, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Batu Bara, Kementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan, PT Inalum, PT PNM, Bank Sumut, serta seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan festival.
Menurutnya, Gebyar Batu Bara Bertanjak bukan sekadar perhelatan seremonial, melainkan ruang aktualisasi budaya yang mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Stand UMKM Bahagia penuh dan pengunjung membludak. Ini bukti bahwa budaya mampu menggerakkan ekonomi,” ujarnya.
Darmawan juga menyebutkan bahwa Kabupaten Batu Bara masih memiliki peluang untuk kembali masuk dalam Kalender Karisma Event Nusantara (KEN) pada 2027. Namun, peluang tersebut perlu ditopang evaluasi penyelenggaraan, dukungan penuh dari Pemkab Batu Bara, penguatan kualitas acara, promosi pariwisata, serta dampak ekonomi yang terukur.
Sementara itu, salah seorang penggagas Batu Bara Bertanjak, Candra Haris, menegaskan bahwa tanjak memiliki makna filosofis yang melampaui sekadar aksesori busana tradisional Melayu.
“Tanjak adalah mahkota Melayu. Bertanjak merupakan cara kita mengembalikan harga diri dan jati diri. Ini bukan soal gaya, melainkan menjaga warisan leluhur agar anak cucu kita bangga menjadi Melayu Batu Bara,” tegasnya.
Pesan tersebut menempatkan pelestarian budaya sebagai bagian dari penguatan identitas masyarakat di tengah arus modernisasi. Konsistensi penyelenggaraan sejak jilid pertama hingga jilid ketujuh diharapkan mampu menjaga kesinambungan tradisi sekaligus memperluas daya tarik pariwisata daerah.
Dalam sambutan Bupati Batu Bara yang dibacakan Sekretaris Daerah, Rusian Heri, Pemerintah Kabupaten Batu Bara menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya festival tersebut.
Pemerintah daerah menilai Gebyar Batu Bara Bertanjak memiliki potensi strategis dalam memperkuat identitas budaya Melayu, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM.
Dengan mengucapkan Alhamdulillah, Rusian Heri secara resmi menutup Gebyar Batu Bara Bertanjak Jilid VII Tahun 2026. Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan para undangan dan pengunjung.
Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Kementerian Pariwisata RI dan Kementerian Kebudayaan RI, Sekda Batu Bara mewakili Bupati, perwakilan Polres Batu Bara, Forkopimda, camat dan kepala desa, keturunan Kedatokan Lima Puluh, Datok Tanah Datar, Datok Lima Laras, serta tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat.
Kemahiran seni dan kekayaan musik Melayu semakin terasa pada malam penutupan. Grup musik Melayu Lebah Begantong tampil membawakan sejumlah lagu populer yang mengundang antusiasme ribuan penonton.
Pengunjung berjoget bersama di depan panggung utama, sementara kawasan festival tetap dipadati masyarakat hingga larut malam.
Panitia berharap Gebyar Batu Bara Bertanjak Jilid VIII Tahun 2027 dapat diselenggarakan lebih besar dan meriah, dengan dampak yang semakin nyata bagi pelestarian budaya, pengembangan pariwisata, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan festival budaya tidak cukup diukur dari kemeriahan panggung maupun jumlah pengunjung. Evaluasi yang objektif juga diperlukan untuk mengetahui perputaran ekonomi UMKM, keterlibatan pelaku seni lokal, dampak terhadap pendapatan masyarakat, serta keberlanjutan promosi pariwisata Batu Bara.
Dengan demikian, Gebyar Batu Bara Bertanjak berpeluang berkembang dari agenda tahunan menjadi instrumen pembangunan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
(Tim)




