
SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang menyiapkan pengembangan pertanian terpadu berbasis lahan produktif perkotaan. Melalui metode Bayu Sehat Mandiri (BSM), sektor pertanian, peternakan, dan perikanan akan dipadukan dalam satu sistem produksi pangan.
Program tersebut diarahkan bukan sekadar untuk mengoptimalkan lahan yang tersedia, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Gagasan itu mulai dimatangkan melalui Coaching Clinic dan Pelatihan Pertanian Terpadu Metode BSM yang digelar di Balai Kota Semarang, Kamis, 1 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menghadirkan pakar pertanian terpadu Bayu Diningrat untuk memberikan pembelajaran kepada kelompok tani sekaligus menyiapkan tenaga pendamping melalui pelatihan training of trainers (TOT).
Menurut Agustina, pertanian perkotaan perlu dikembangkan dengan cara pandang yang lebih luas. Aktivitas menanam dan memanen tidak cukup jika tidak diikuti pengelolaan yang terintegrasi serta kepastian pemanfaatan hasil produksi.
“Sekarang zamannya, collab, kolaborasi. Collab yang memiliki impact. Kolaborasi yang berdampak,” kata Agustina.
Konsep BSM dirancang dengan menghubungkan berbagai kegiatan budidaya dalam satu ekosistem.
Tanaman, ternak, dan perikanan diharapkan dapat saling mendukung sehingga lahan produktif dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Namun, penerapannya tidak sederhana. Kondisi lahan, ketersediaan sumber daya, kemampuan kelompok masyarakat, hingga pengelolaan setelah masa panen menjadi bagian yang harus dipersiapkan sejak awal.
Karena itu, Agustina meminta perangkat daerah terkait tidak menjalankan program secara sendiri-sendiri.
Perencanaan dan pelaksanaan harus dilakukan secara lintas sektor agar pertanian terpadu tidak berhenti sebagai program percontohan, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pemkot Semarang menargetkan proses pengajuan dan pemetaan lahan produktif selesai pada Januari 2027. Setelah itu, pola tanam terpadu ditargetkan mulai diterapkan pada Februari 2027.
Penerapan awal tersebut akan menjadi tahap uji coba. Pemerintah kota berencana melakukan evaluasi pada akhir 2027 untuk melihat efektivitas metode BSM sebelum hasilnya digunakan sebagai dasar pengembangan program pada 2028.
Selain produksi, pemerintah juga menyiapkan aspek pemasaran. Hal ini penting agar hasil pertanian masyarakat tidak berhenti di lahan atau mengalami kerugian karena tidak terserap pasar.
Produk seperti sayuran, cabai, dan ikan lele diharapkan memiliki jalur distribusi yang jelas. Kempling Semar disiapkan sebagai salah satu jaringan awal untuk membantu menampung dan menyalurkan hasil produksi masyarakat.
Agustina menegaskan bahwa pertanian terpadu harus memiliki keterhubungan dari hulu hingga hilir. Produksi di lahan harus terhubung dengan peternakan dan perikanan, kemudian hasilnya disalurkan melalui jaringan pemasaran yang telah dipersiapkan.
“BSM ini nanti memberi kita sebuah cara pandang yang baru terhadap pengelolaan lahan yang terintegrasi. Ternak, tanaman, perikanan, disambung. Kalau panen nanti ke Kempling Semar, Pak Rahman, atau ke pasar mana pun. Tapi ingat, pokoknya jangan sampai hasil panennya sia-sia,” ujar Agustina.
Dengan skema tersebut, Pemkot Semarang menempatkan pertanian perkotaan bukan hanya sebagai kegiatan budidaya, melainkan bagian dari sistem pangan yang terhubung dengan pemberdayaan masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Program ini masih berada pada tahap persiapan dan pemetaan. Hasil penerapan pada 2027 akan menjadi ukuran penting untuk menentukan sejauh mana metode BSM dapat dikembangkan lebih luas di Kota Semarang pada 2028.








