BATU BARA — Malam 27 Ramadhan adalah malam istimewa bagi masyarakat Melayu di Sumatra Utara, khususnya di Kabupaten Batu Bara. Mereka merayakan malam ini dengan pembuatan pelita, lampu minyak tradisional yang melambangkan cahaya ilmu dan petunjuk dari Lailatul Qadar.
Pelita ini bukan sekadar penerang, tetapi juga simbol ketekunan, kesabaran, dan hubungan spiritual dengan alam.
Pembuatan pelita dimulai sore hari, saat matahari mulai condong ke barat. Bahan utama diambil dari alam sekitar, seperti batang bambu, minyak kelapa, dan daun pandan. Anak-anak diajari sejak dini untuk membuat pelita, menjadikan ini pendidikan budaya yang menyenangkan. Mereka belajar tentang kesabaran, ketelitian, dan keindahan alam.
Saat maghrib, pelita dinyalakan dengan api dari kayu manis atau serai, menciptakan wangi abadi. Pelita ditaruh di pinggir jalan, makam leluhur, atau masjid, menyala sepanjang malam seperti lautan cahaya. Masyarakat Melayu percaya, cahaya pelita mengusir kegelapan dosa dan mendekatkan diri pada ampunan Ilahi.
Tradisi Pelita Qadar ini menjadi identitas budaya Melayu yang kuat. Di era modern, meski listrik menggantikan, pelita tetap lestari sebagai simbol harapan dan kebersamaan. Festival ini juga menarik wisatawan, mempromosikan pariwisata berkelanjutan di Sumatra.
Dengan tantangan urbanisasi, generasi muda didorong ikut serta dalam melestarikan tradisi ini. Mereka membagikan tutorial dan cerita di media sosial, mengingatkan kita bahwa di balik gemerlap Ramadhan, ada cahaya tradisi Melayu yang bernilai.
Penulis : R Ramadhan























