Manokwari — Peringatan 171 tahun masuknya Pekabaran Injil di Tanah Papua yang bermula dari Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855 akan kembali diperingati pada tahun 2026.
Pemerintah Provinsi Papua Barat menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh seluruh rangkaian kegiatan tersebut.
Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si, mengatakan bahwa panitia peringatan telah terbentuk dan persiapan terus dimatangkan, terutama terkait kebersihan, keamanan, dan ketertiban selama pelaksanaan ibadah dan kegiatan rohani.
“Pekabaran Injil di Tanah Papua dimulai dari Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855. Tahun 2026 ini genap 171 tahun dan panitia sudah terbentuk,” ujar Dominggus Mandacan saat dikonfirmasi Tempo-Timur.com melalui WhatsApp, Jumat siang (30/1/2026) WIT.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Papua Barat tidak tinggal diam, tetapi secara aktif mengambil bagian. Seluruh ASN dan tenaga honorer di lingkungan Pemprov Papua Barat dilibatkan untuk membantu panitia, khususnya dalam menjaga kebersihan Pulau Mansinam.
“Setiap tahun Pemerintah Provinsi Papua Barat selalu terlibat, dan tahun ini pun demikian. Kita jaga kebersihan supaya seluruh rangkaian ibadah berjalan dengan baik, tertib, dan penuh kekhusyukan,” tegasnya.
Dominggus menekankan bahwa kebersihan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi tanggung jawab moral dan iman, agar umat dapat beribadah dengan tenang tanpa gangguan.
Selain kebersihan, Gubernur juga memberikan penekanan keras pada aspek keamanan, ketertiban, dan kedamaian. Ia mengingatkan bahwa peringatan Pekabaran Injil akan dihadiri banyak tamu, baik dari seluruh wilayah Tanah Papua maupun dari luar Papua.
“Saya mengajak seluruh masyarakat, khususnya di Manokwari, untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kedamaian. Kita ini tuan rumah. Tugas kita memastikan semua tamu datang dengan aman, beribadah dengan tenang, dan pulang membawa damai serta sukacita,” ujarnya.
Menurut Dominggus, peringatan Pekabaran Injil bukan hanya acara keagamaan, tetapi momentum persatuan dan kesaksian iman yang harus dijaga bersama. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada gangguan apa pun yang merusak kekhusyukan ibadah dan citra Papua Barat sebagai daerah yang damai dan religius.
“Saya ingin suasana ibadah berjalan aman, tertib, dan penuh damai. Ini tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.
Penulis : Amatus Rahakbauw, K














