Fakfak — Tokoh Agama Kabupaten Fakfak Haji Mustaqfirin, menyampaikan harapannya kepada Kepala Dinas Pendidikan Fakfak yang baru, Saleh.Hindom, agar mampu meningkatkan kualitas pendidikan serta pelayanan pendidikan di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat.
Hal tersebut disampaikan Haji Mustaqfirin saat dikonfirmasi TempoTimur.com melalui pesan WhatsApp pada Senin (26/1/2026) sekitar pukul 18.22 WIT, di kediamannya.
Menurut Haji Mustaqfirin, penetapan Kepala Dinas Pendidikan yang baru oleh Bupati Fakfak tentu telah melalui berbagai kajian dan pertimbangan, baik dari aspek kompetensi, kriteria, maupun kebutuhan organisasi.
“Saya yakin penetapan Kepala Dinas Pendidikan yang baru sudah melalui kajian yang matang. Harapannya, Kepala Dinas yang baru dapat memberikan pelayanan yang maksimal terhadap kebutuhan guru, staf, serta sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Fakfak,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Kepala Dinas Pendidikan harus mampu merangkul seluruh sekolah serta membangun hubungan internal yang baik di lingkungan kantor dengan mengedepankan sikap kebapakan dan kepemimpinan yang humanis.
Lebih lanjut, Haji Mustaqfirin menyoroti pentingnya penerapan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, yakni Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, dalam kepemimpinan di dunia pendidikan.
“Seorang pemimpin pendidikan harus menjadi teladan di depan, memberi motivasi di tengah, dan memberikan dorongan dari belakang. Pendidikan tidak hanya soal mengajar yang berkaitan dengan kognitif, tetapi juga mendidik mental dan karakter,” jelasnya.
Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan harus disertai dengan sinkronisasi antara kecerdasan intelektual dan pembentukan moral, karena moralitas melahirkan semangat, sementara pikiran digunakan untuk memecahkan persoalan melalui logika dan musyawarah.
Terkait pemberantasan buta aksara, ia berharap Kepala Dinas Pendidikan yang baru aktif turun langsung ke sekolah-sekolah untuk melihat kondisi riil di lapangan.
“Tidak bisa hanya bekerja dari balik meja. Harus turun ke sekolah-sekolah dan melihat langsung berapa persen anak-anak yang belum bisa membaca, namun tetap menjaga manajemen dan koordinasi di kantor,” pungkasnya.
Penulis : Amatus Rahakbauw
















