TempoTimur — Air mata tidak pernah menjadi mata uang yang dapat menawar murka bumi. Alam tidak mengenal belas kasihan emosional;ia hanya mengenal sebab dan akibat yang bekerja sunyi namun pasti.
Tangisan manusia, betapapun pilunya,
tidak membatalkan hukum kehidupan
yang telah kita langgar dengan sadar.
Setiap pohon yang ditebang tanpa kebijaksanaan,setiap sungai yang diracun oleh keserakahan,adalah keputusan moral yang kelak menuntut pertanggungjawaban.
Hutan yang dibantai tidak bangkit oleh penyesalan yang datang terlambat.
Penyesalan hanyalah pengakuan batin
bahwa kita telah gagal menjaga keseimbangan.Namun pengakuan tanpa perubahan tak lebih dari pembenaran yang halus.
Dalam filsafat kehidupan,manusia bukan penguasa mutlak bumi,melainkan makhluk etis yang diberi akal untuk membatasi diri.
Ketika batas itu dilanggar,alam tidak menghukum—alam hanya mengembalikan akibat dari pilihan yang kita buat sendiri.
Maka, yang dituntut bukan rasa iba sesaat, melainkan kesadaran yang bertumbuh menjadi tanggung jawab.Sebab di hadapan bumi,yang terlambat bukan hanya penyesalan,tetapi juga kebijaksanaan manusia itu sendiri.
Penulis : Amatus Rahakbauw




















