Fakfak — Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sipatnanam bersama Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Pala Wumpi menggelar pelatihan peningkatan kapasitas masyarakat dalam hilirisasi produk pala sebagai bagian dari implementasi program FOLU Net Sink 2030. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 27 November 2025, dipusatkan di Kampung Sipatnanam, Distrik Wartutin, Kabupaten Fakfak.
Kedatangan tim Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat disambut hangat oleh KUPS Pala Wumpi melalui prosesi pengalungan Tomang, yang juga diberikan kepada Kepala Distrik Wartutin, Hasan Woretma, sebagai bentuk penghormatan adat masyarakat setempat.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Distrik Wartutin, Hasan Woretma, dan dihadiri oleh perwakilan Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, CDK V Fakfak, UPTD KPHP Fakfak, Kepala Kampung Sipatnanam, tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, serta 25 anggota KUPS Pala Wumpi.
Kepala KPHP Fakfak, Thaib Wasaraka, menjelaskan bahwa pelatihan hilirisasi pala telah memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya kelompok perempuan. Menurutnya, beberapa ibu rumah tangga kini mampu memproduksi berbagai olahan pala seperti sirup pala dan sari pala yang mulai dipasarkan di tingkat lokal.
“Pelatihan ini meningkatkan keterampilan masyarakat sehingga mereka dapat menghasilkan produk pala yang berkualitas dan bernilai jual tinggi. Selain itu, kegiatan ini membantu mengurangi tekanan terhadap hutan karena masyarakat memiliki sumber pendapatan alternatif yang berkelanjutan. Program ini sejalan dengan arah kebijakan FOLU Net Sink 2030,” ujar Thaib.
Dalam penjelasannya, Hasan Woretma menyebutkan bahwa pelatihan dilaksanakan melalui tahapan sistematis agar peserta memahami seluruh proses hilirisasi.
Tahapan tersebut meliputi:
1. Pengenalan bahan baku, termasuk seleksi buah pala berkualitas dan teknik pembersihan.
2. Proses produksi, yaitu pembuatan sirup dan sari pala yang higienis, standar takaran, teknik pengemasan, serta pengendalian mutu.
3. Manajemen usaha, berupa pencatatan keuangan sederhana, penentuan harga jual, dan strategi pemasaran.
Keterlibatan kelompok perempuan dan pemuda menjadi fokus agar manfaat pelatihan menjangkau rumah tangga secara lebih luas.
Perwakilan Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, Ricard Gatot, menegaskan bahwa pemerintah mendukung penuh pengembangan hasil hutan bukan kayu sebagai sumber ekonomi masyarakat Fakfak.
“Hilirisasi pala merupakan peluang strategis bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa merusak hutan. Pemerintah terus mendorong kelompok perhutanan sosial agar produktif dan mandiri,” ujarnya.
Pelatihan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya realisasi target FOLU Net Sink 2030, yaitu keseimbangan antara serapan dan emisi sektor kehutanan di tingkat nasional.
Penulis : Amatus Rahakbauw




















