Sentuhan yang Tertunda di Malam Natal 2025

- Penulis

Rabu, 26 November 2025 - 16:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Langit Desember 2025 turun perlahan seperti daun salju yang malu-malu. Di kota kecil yang dikelilingi bukit dan sungai yang berkilau oleh cahaya lampu Natal, seorang pemudi bernama Laras berjalan pelan menyusuri trotoar yang basah oleh hujan gerimis. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ada beban yang menahan keberanian yang selama ini ia simpan dalam diam.

Laras sudah lama ingin memberi sesuatu kepada dunia—bukan hadiah yang dibungkus kertas berkilau, tetapi sesuatu yang lahir dari hatinya: sebuah lukisan tentang kasih. Namun mimpi itu selalu tertunda, tertahan oleh rasa takut dan ragu: takut tidak dihargai, takut disalahpahami, bahkan takut gagal.

Natal sebentar lagi tiba, tetapi hatinya masih tersekap oleh ketidakberanian.

Raga, Guru yang Datang sebagai Jawaban

Di sekolah seni tempatnya belajar, hadir seorang guru baru bernama Raga. Usianya tidak terlalu tua, tetapi matanya seolah memancarkan pengalaman yang panjang. Ia mengajar bukan hanya dengan teknik, tetapi dengan hati. Ia bisa melihat apa yang tidak terlihat oleh banyak orang—retakan kecil pada mimpi yang tertunda.

Baca Juga  Konsumsi Ikan Baik untuk Perkembangan Otak Anak

Suatu sore, ketika Laras duduk termenung di depan kanvas kosong, Raga mendekatinya.

“Laras,” katanya lembut, “kadang yang paling dunia tunggu adalah sentuhan yang belum kita berani berikan.”

Kata-kata itu menghangatkan dada Laras seperti api kecil di tengah udara dingin.
Namun tetap saja—tangannya gemetar setiap kali mencoba menorehkan warna.

Menjelang Natal, kota kecil itu bersiap dengan segala kemeriahan: lonceng gereja berdenting, lampu-lampu berkelip, suara anak-anak paduan suara memenuhi udara. Tetapi bagi Laras, semua keceriaan itu justru terasa seperti pengingat bahwa waktunya hampir habis. Ia ingin memberikan sesuatu yang berarti pada malam Natal—namun ia belum juga berani.

Malam itu, ia duduk sendiri di kamar kecilnya. Di atas meja, Alkitab terbuka pada satu ayat:

“Dalam kasih tidak ada ketakutan…”

Baca Juga  Jangan Salah Menilai: Pengenalan Dunia Jurnalis yang Sering Disalahpahami

Laras menutup matanya. Untuk pertama kalinya, ia berdoa bukan untuk meminta keberhasilan, tetapi keberanian.

Lukisan yang Akhirnya Tersentuh

Doa itu seperti membuka kunci yang selama ini menahan pintu jiwanya.
Tangan Laras mulai bergerak. Perlahan. Hati-hati. Lalu mengalir seperti sungai yang menemukan jalannya sendiri.

Di kanvas itu tercipta sebuah pemandangan malam Natal:
seorang ibu memeluk anaknya, cahaya lilin menerangi wajah mereka, dan di belakang terlihat siluet palungan sederhana tempat bayi Yesus lahir—lambang kasih yang mengalahkan ketakutan.

Ia menamakan lukisan itu:

“Sentuhan yang Tertunda.”

Malam Natal 2025: Ketika Keberanian Menyala

Pada malam perayaan Natal 24 Desember 2025, gedung gereja penuh sesak. Pemuda-pemudi sibuk menata dekorasi, anak-anak menyiapkan pujian, dan jemaat memenuhi ruang ibadah yang hangat oleh cahaya lilin.

Di pintu masuk, panitia menempatkan lukisan Laras.
Awalnya ia ingin mengundurkannya—tapi Raga berdiri di sampingnya dan berkata:

“Ini bukan tentang mereka menyukai atau tidak. Ini tentang kamu akhirnya berani menyentuh dunia.”

Baca Juga  Pembongkaran Pagar Laut di Pantai Banten Harus Tuntas Agar Menjadi Pembelajaran Bagi Seluruh Warga Bangsa Indonesia

Saat lilin-lilin dinyalakan dan lagu Malam Kudus mulai dinyanyikan, para jemaat satu per satu berhenti di depan lukisan itu.
Ada yang tersenyum.
Ada yang terdiam lama.
Ada yang mengusap mata pelan.

Di antara kerumunan, seorang anak kecil berkata kepada ibunya:

“Mama, lihat… itu gambar yang bikin hati hangat.”

Kata-kata itu menghantam dada Laras seperti pelukan yang sudah lama ia tunggu.

Pada malam itu ia mengerti:
Tidak ada sentuhan yang benar-benar terlambat, jika diberikan dengan kasih.

Pesan Inspiratif untuk Para Muda-Mudi

Natal bukan hanya tentang lampu dan lagu, tetapi tentang keberanian untuk mengasihi.

Ketakutan adalah bayangan—ia hilang ketika kita menyalakan cahaya iman.

Setiap talenta adalah hadiah dari Tuhan yang harus dibagikan, bukan disembunyikan.

Walau tertunda, sentuhan kecil yang lahir dari hati dapat menjadi berkat besar bagi orang lain.

Penulis : Amatus Rahakbauw

Berita Terkait

Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran
Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 
Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara
Salut, Pansus Plasma HGU Perkebunan di Batu Bara Terbentuk 
Raden AF, Mengupas Lagi Jendral AA, Terkenal Keberaniannya Mengeksekusi Anakbuahnya Merusak Bangsa
Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya
Gereja Tanpa Struktur Jelas? Jangan Heran Pelayanannya Kacau
Iman Jalan Pribadi, Bukan Titipan pada Tokoh Rohani

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:57 WIB

Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran

Senin, 15 Juni 2026 - 10:05 WIB

Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:13 WIB

Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara

Rabu, 10 Juni 2026 - 09:04 WIB

Salut, Pansus Plasma HGU Perkebunan di Batu Bara Terbentuk 

Minggu, 7 Juni 2026 - 09:57 WIB

Raden AF, Mengupas Lagi Jendral AA, Terkenal Keberaniannya Mengeksekusi Anakbuahnya Merusak Bangsa

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page