Cerpen:
Pernahkah kamu membaca di media sosial, seorang jurnalis menulis kata “sayang” atau “cinta” berulang-ulang, seolah mengobarkan ribuan kali getar rasa?
Jangan buru-buru salah sangka.
Dalam dunia jurnalistik, setiap kata punya latar, sumber, dan tujuan. Tugas jurnalis bukan sekadar mengetik kalimat indah, tetapi mencari, memverifikasi, menggali, dan mengangkat informasi untuk publik. Kata “sayang” bisa saja terucap dari bibir narasumber, dan “cinta” mungkin bagian dari cerita yang ia liput. Bahkan, saat jurnalis mengucapkan kata itu kepada seorang kenalan di media sosial, berkunjung ke kotanya, atau mendatangi kantornya, hal itu bisa menjadi bagian dari penelusuran fakta dan penggalian informasi—bukan pernyataan hati.
Jurnalis ibarat penyelam di samudra informasi. Ia turun ke kedalaman, menemukan mutiara cerita, lalu membawanya ke permukaan agar semua orang bisa melihat. Namun, sering kali ada yang keliru menilai: mengira mutiara itu adalah milik pribadi sang penyelam, padahal ia hanya perantara yang membawa kisah dari dasar laut ke hadapan pembaca.
Karena itu, pahamilah: di balik setiap berita ada proses panjang, di balik setiap kata ada konteks yang tak boleh dipisahkan. Bacalah dengan hati yang bijak, jangan menuduh sebelum mengerti. Profesi jurnalis berdiri di atas prinsip fakta, verifikasi, dan tanggung jawab publik—bukan pesan rahasia yang dikirim untuk satu hati.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K











