TEMPO TIMUR — Dalam sunyi gereja yang ramai oleh pujian, tak semua suara terdengar. Kadang yang terdengar justru adalah suara-suara yang tidak diucapkan—bisikan hati yang menghakimi diam-diam.
“Kenapa laporan keuangan tidak dibacakan?”
“Apakah ada yang disembunyikan?”
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di antara bangku-bangku kayu.
Namun tak semua jawaban perlu disuarakan keras-keras.
Bendahara itu bekerja diam-diam. Ia datang sebelum siapa pun hadir. Ia menata Mimbar, mengganti taplak,. Ia tidak membacakan laporan mingguan—bukan karena lupa, apalagi karena menyembunyikan. Tetapi karena ia percaya, bahwa kasih dan ketulusan lebih penting daripada pengakuan.
Apa artinya laporan yang dibacakan tanpa kasih?
Apa gunanya transparansi yang dipaksa, bila tidak diminta dengan hormat?
Tuhan melihat hati, bukan rutinitas. Pelayanan bukan hanya apa yang tampak di mimbar, tapi juga yang disiapkan dalam keheningan.
Ayat Alkitab Terkait:
“Segala sesuatu yang kamu lakukan, lakukanlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Kolose 3:23
“Tuhan tidak melihat apa yang dilihat manusia; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
1 Samuel 16:7b
“Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.”
1 Korintus 13:4
Penutup:
Gereja yang kuat lahir dari kasih yang tulus, bukan dari lidah yang tajam.
Dan seorang bendahara yang bekerja dengan hati kepada Tuhan lebih berharga daripada laporan yang dibacakan tanpa kasih.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K



















