Fakfak — Sebanyak 117 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Asy-Syafi’iyah Fakfak resmi diwisuda dalam prosesi khidmat yang digelar pada Kamis, 26 Juni 2025, di lingkungan kampus setempat.
Acara wisuda ini dihadiri oleh civitas akademika, keluarga wisudawan, serta tamu undangan, yang menyambut momen tersebut dengan penuh sukacita. Wisuda ini menjadi penanda resmi selesainya masa studi mahasiswa sesuai standar nasional pendidikan tinggi di Indonesia.
Ketua Program Studi Administrasi Publik STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak, Marthen Pentury, saat dikonfirmasi pada Jumat, 27 Juni 2025 pukul 12.24 WIT, menjelaskan bahwa pelaksanaan wisuda bukan hanya seremoni simbolik, tetapi merupakan pengakuan sah atas pencapaian akademik dan administratif mahasiswa.
“Saat ini, proses wisuda dilakukan lebih ketat. Mahasiswa harus memenuhi berbagai persyaratan, termasuk memperoleh Nomor Ijazah Nasional (PIN) yang menjamin legalitas ijazah secara nasional,” ujar Marthen.
Ia menegaskan bahwa momen wisuda juga menjadi ajang penting untuk menunjukkan eksistensi dan kualitas institusi pendidikan di mata publik.
“STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak adalah kampus yang resmi dan terakreditasi, baik oleh BAN-PT maupun lembaga akreditasi mandiri. Ini bukan kampus abal-abal, melainkan institusi yang layak menjadi pilihan anak-anak daerah, khususnya di Fakfak,” tegasnya.
Marthen menambahkan bahwa pihak kampus berharap para lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis, jiwa kepemimpinan, serta kecakapan digital, utamanya di bidang administrasi publik dan bisnis.
“Kita hidup di era kecerdasan buatan (AI). Lulusan harus bisa memanfaatkan teknologi digital dalam sistem pemerintahan elektronik dan memahami tren bisnis online yang terus berkembang,” paparnya.
Lebih dari itu, kampus juga menekankan pentingnya etika, integritas, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam pembentukan karakter mahasiswa.
“Kami ingin mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbudi pekerti luhur, santun, dan berintegritas tinggi,” ujarnya.
Dari 117 wisudawan, sejumlah mahasiswa diketahui aktif dalam organisasi kemahasiswaan, baik internal seperti UKM dan HMP, maupun eksternal seperti HMI, GMKI, dan PMKRI. Aktivitas tersebut menurut Marthen merupakan indikator potensi kepemimpinan yang perlu dikembangkan lebih lanjut.
“Mereka hanya butuh ruang dan kepercayaan. Saya yakin, lulusan STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak mampu bersaing secara sehat dengan lulusan kampus mana pun di Indonesia,” tutupnya.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K





















