
BATU BARA — Kabupaten Batu Bara mengukir capaian membanggakan di peta kebudayaan nasional. Dalam waktu hanya satu bulan, dua pengakuan penting berhasil diraih sekaligus, yakni Tenun Batu Bara yang resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) dan Gebyar Batu Bara Bertanjak yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Penetapan Tenun Batu Bara sebagai WBTbI tertuang dalam Sertifikat Nomor 510/WB/KB.00.01/2025 yang ditandatangani Menteri Kebudayaan RI Dr. Fadli Zon di Jakarta pada 15 Desember 2025. Sertifikat tersebut kemudian diserahkan secara resmi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Sumatera Utara kepada Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara pada 6 Oktober 2026.
Pengakuan ini menempatkan tenun songket Batu Bara sebagai bagian dari kekayaan nasional di bidang kemahiran kerajinan tradisional. Bagi masyarakat Batu Bara, penetapan tersebut bukan sekadar penghargaan, tetapi juga legitimasi bahwa tenun yang diwariskan lintas generasi memiliki nilai sejarah, teknik, dan filosofi yang layak dilindungi negara.
Di sisi lain, Gebyar Batu Bara Bertanjak juga berhasil menembus seleksi ketat KEN 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata RI. Festival ini tercatat sebagai satu dari 125 event unggulan se-Indonesia dari 38 provinsi dan menjadi satu dari enam event terpilih dari Sumatera Utara, bersanding dengan festival-festival besar lainnya.
Setiausaha Agung Syarikat Perkerisan Melayu Batu Bara, Raisha Ramadhan, menyambut kedua capaian tersebut dengan apresiasi tinggi. Ia menilai pengakuan nasional ini menjadi bukti nyata bahwa budaya Melayu Batu Bara memiliki kekuatan artistik, historis, dan sosial yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Menurut Raisha, tugas selanjutnya adalah menjaga agar penghargaan ini tidak berhenti sebagai seremoni. Diperlukan sinergi antara pemilik negeri, pemangku adat, komunitas Melayu, dan pemerintah daerah untuk memastikan regenerasi penenun terus berjalan, ekonomi kreatif tumbuh, dan generasi muda Melayu Batu Bara semakin mengenal jati dirinya yang bertutur budaya.
Penulis : Red



