
BATU BARA — Gemuruh dukungan ribuan pengunjung dan suporter mewarnai hari ketiga Karisma Event Nusantara (KEN) Gebyar Batu Bara Bertanjak Jilid VII 2026, Senin (12/10/2026).
Berpusat di halaman bersejarah Istana Niat Lima Laras, Kecamatan Nibung Hangus, festival budaya Melayu ini kian menunjukkan daya tariknya sebagai panggung pelestarian tradisi sekaligus magnet wisata di Kabupaten Batu Bara.
Memasuki hari ketiga, kemeriahan festival bukan sekadar terlihat dari padatnya pengunjung, tetapi juga dari sengitnya persaingan dalam perlombaan Vokal Solo Melayu.
Kehadiran masyarakat dari berbagai kalangan memperlihatkan besarnya antusiasme terhadap seni dan budaya Melayu yang menjadi identitas daerah.
Sorotan utama tertuju pada 27 peserta yang datang dari berbagai kabupaten/kota se-Sumatera Utara. Mereka tampil membawa karakter dan kemampuan vokal masing-masing, beradu teknik, cengkok, serta penghayatan lagu Melayu demi merebut tempat di babak final.
Persaingan ini sekaligus menjadi ruang pembuktian bagi para penyanyi untuk menunjukkan kualitas di panggung budaya bergengsi.
Kompetisi yang dimulai pukul 11.00 WIB berlangsung hingga sore hari. Penampilan demi penampilan mendapat perhatian penonton, sementara dewan juri harus melakukan penilaian ketat sebelum menetapkan 10 peserta terbaik.
Kesepuluh finalis kemudian kembali berhadapan dalam babak 10 besar pada malam hari mulai pukul 20.00 WIB.
Ketatnya persaingan semakin terasa ketika para finalis tampil di panggung utama dengan dukungan suporter masing-masing.
Meski seluruh peserta berupaya memberikan penampilan terbaik, hasil akhir belum diumumkan. Panitia menjadwalkan pengumuman resmi pemenang pada malam penutupan festival, Jumat (16/10/2026), sehingga publik masih menanti siapa yang akan keluar sebagai juara.
Untuk menjaga kualitas penilaian, panitia menghadirkan 3 dewan juri dengan latar belakang berbeda.
Diantaranya, Sofyan Alwi, tokoh budaya Melayu terkemuka di Sumatera Utara, menilai keselarasan cengkok, pembawaan, dan pakem lagu Melayu.
Hafiz, penyanyi profesional jebolan Dangdut Academy 4 (DA 4), memberikan penilaian dari aspek teknik vokal dan penampilan panggung, sedangkan Kak Dina, penyanyi Melayu senior sekaligus bintang tamu, menitikberatkan penilaian pada harmonisasi dan penjiwaan lagu.
Usai persaingan vokal mereda, suasana malam di kawasan Istana Niat Lima Laras kembali bergemuruh melalui penampilan Intan Baiduri, penyanyi jebolan Dangdut Academy 4 asal Desa Padang Genting, Kabupaten Batu Bara.
Kehadirannya menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjung yang memadati kawasan festival, sekaligus memperkuat nuansa hiburan rakyat dalam perhelatan budaya tersebut.
Kemudian, Molek Band, grup musik lokal kebanggaan Kecamatan Tanjung Tiram, turut menghidupkan panggung dengan penampilan energik.
Perpaduan kompetisi seni, hiburan, dan antusiasme masyarakat membuat Batu Bara Bertanjak Jilid VII tidak hanya menjadi ruang unjuk kemampuan, tetapi juga wadah bagi talenta lokal untuk tampil dan mendapat perhatian publik.
Padatnya pengunjung selama kegiatan berlangsung menjadi peluang bagi pelaku UMKM dan pedagang setempat untuk meningkatkan aktivitas usaha.
Namun, lebih dari sekadar kemeriahan, Gebyar Batu Bara Bertanjak diharapkan mampu menjaga keberlanjutan seni Melayu, memperkuat identitas budaya daerah, serta mendorong promosi wisata Batu Bara.
Kini, perhatian publik tertuju pada malam penutupan 16 Oktober mendatang, saat para juara Vokal Solo Melayu diumumkan dan rangkaian festival mencapai puncaknya. (adn/red)



