Jurnalis dan Nurani Kebenaran: Saat Pena Menjadi Cahaya Peradaban

- Penulis

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

JAKARTA – Di tengah derasnya arus informasi digital, peran jurnalis kembali ditegaskan bukan sekadar sebagai penulis berita. Seorang jurnalis disebut sebagai penjaga nurani zaman, saksi perjalanan sejarah, dan penyambung suara masyarakat yang sering tidak terdengar. Pernyataan ini disampaikan oleh jurnalis senior Amatus Rahakbauw K dalam tulisannya berjudul “Jurnalis dan Nurani Kebenaran”.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam refleksinya, ia menekankan bahwa kebenaran tidak pernah takut pada cahaya, sementara kebohongan selalu mencari tempat untuk bersembunyi. Karena itu, seorang jurnalis sejati dituntut untuk tidak menjual nuraninya demi kepentingan, tidak membungkam fakta demi keuntungan, dan tidak mengubah kebenaran demi pujian. Prinsip “katakan benar apabila memang benar, katakan salah apabila memang salah” disebut sebagai mahkota tertinggi profesi jurnalistik.

Baca Juga  Begini Pesan Presiden Jokowi Ke Agus Flores Jelang Ramadhan 1445 Hijriyah 

 

Tulisan tersebut juga menyoroti kekuatan pena yang digerakkan oleh hati yang bersih. Menurutnya, pena yang sederhana sekalipun mampu mengubah cara pandang manusia terhadap dunia. Sebaliknya, pena yang kehilangan integritas justru dapat menimbulkan luka yang lebih dalam dibandingkan senjata. Pernyataan ini menjadi pengingat akan besarnya tanggung jawab moral yang melekat pada setiap karya jurnalistik.

 

Lebih jauh, ia mengajak insan pers untuk menjadi jurnalis yang menyalakan cahaya, bukan meniupkan api kebencian. Jurnalis juga diharapkan menjadi suara bagi keadilan, bukan gema kepentingan. Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang dari seorang jurnalis bukanlah seberapa banyak berita yang ditulis, melainkan seberapa besar kebenaran yang berhasil dijaga.

Baca Juga  Pimpinan KPK Sita Hp Pentolan Parpol, Sekretaris LBH Ferari Batu Bara Singgung Kasus PPPK

 

“Seorang jurnalis boleh kehilangan jabatan, harta, bahkan kenyamanan. Namun jangan pernah kehilangan keberanian untuk membela kebenaran. Sebab ketika nurani tetap hidup, jurnalisme akan tetap menjadi cahaya bagi peradaban,” tulisnya menutup. Pernyataan ini menjadi seruan agar insan pers terus memegang teguh integritas di tengah tantangan zaman.

 

 

Penulis : Amartus Rahakbauw K

Berita Terkait

Senja yang Pergi, Bulan yang Menemani
Belajar dari Yunnan, Tobat Ekologi Ditopang Gerakan Koperasi
Raden Mas Agus Rugiarto SH, Sosok Aktivis, Advokat, dan Organisasi yang Memilih Tetap Mengabdi di Tengah Masyarakat
Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan
Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 
Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran
Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 
Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:44 WIB

Jurnalis dan Nurani Kebenaran: Saat Pena Menjadi Cahaya Peradaban

Senin, 13 Juli 2026 - 18:36 WIB

Senja yang Pergi, Bulan yang Menemani

Minggu, 12 Juli 2026 - 16:41 WIB

Belajar dari Yunnan, Tobat Ekologi Ditopang Gerakan Koperasi

Rabu, 8 Juli 2026 - 17:48 WIB

Raden Mas Agus Rugiarto SH, Sosok Aktivis, Advokat, dan Organisasi yang Memilih Tetap Mengabdi di Tengah Masyarakat

Senin, 22 Juni 2026 - 13:07 WIB

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page